Keadaan-keadaan yang Makruh untuk Melaksanakan Sholat

Ada keadaan-keadaan tertentu dimana dimakruhkan sholat dalam keadaan-keadaan itu dikarenakan jika kita melaksanakan sholat dalam keadaan seperti itu akan mengganggu kekhusyu’kan sholat kita yaitu dalam keadaan-keadaan berikut ini.

  1. Melaksanakan sholat dalam keadaan haqin yaitu menahan kencing (kebelet).
  2. Melaksanakan sholat dalam keadaan haqib yaitu menahan buang air besar (kebelet).
  3. Melaksanakan sholat dalam keadaan hazik yaitu menahan kentut.
  4. Melaksanakan sholat dalam keadaan haqim yaitu menahan kencing dan berak sekaligus. Maka didalam empat keadaan diatas lebih baik kita tuntaskan hajat kita dahulu barulah kemudian kita laksanakan sholat.
  5. Melaksanakan sholat dalam keadaan menahan selera makan jika waktu sholat pada waktu itu masih luas, sedangkan makanan sudah tersaji maka lebih baik makan dahulu Barulah kemudian melaksanakan sholat.
  6. Melaksanakan sholat diatas sepatu atau sandal yang sempit.
  7. Melaksanakan sholat dalam keadaan marah hingga reda marahnya.
  8. Melaksanakan sholat dalam keadaan mengantuk hingga hilang rasa kantuknya.
  9. Melaksanakan sholat dalam keadaan mudtobi’ yaitu mereka yang melaksanakan haji atau umroh dari kaum pria dalam keadaan selendangnya yang sebelah kanan diletakkan dibawah ketiaknya sehingga bahu kanannya terbuka, dan memang hal itu disunnahkan ketika melaksanakan thowaf bagi kaum pria akan tetapi ketika melaksanakan sholat disunnah-kan untuk menutup kedua bahunya tersebut dengan selen-dang itu sementara dia melaksanakan sholat hingga selesai dari sholatnya.
  10. Melaksanakan sholat dalam keadaan tertutup sebagian wajahnya atau setengahnya bagi laki-laki (seperti cadar yang menutup muka), begitu pula bagi perempuan dalam keadaan memakai cadar, kecuali jika disana ada laki-laki yang ajnabi (bukan mahrom).
  11. Melaksanakan sholat dalam keadaan terbuka kepala dan bahunya bagi laki-laki.
  12. Melaksanakan sholat dengan pakaian yang bergambar atau diatas sejadah/permadani yang bergambar karena hal itu akan melalaikannya.
  13. Melaksanakan sholat dalam keadaan terlilit kain di sekujur badannya, karena hal itu akan merepotkannya ketika melaksanakan pekerjaan-pekerjaan sholat.
  14. Melaksanakan sholat dengan memakai selendang yang panjang dan kedua sisi selendangnya tersebut dibiarkan menyentuh tanah.
  15. Melaksanakan sholat dengan pakaian yang panjang hingga ujungnya menyentuh tanah bagi kaum laki-laki, atau sampai lebih dari satu hasta yang tersentuh ke tanah bagi perempuan karena biasanya tidak berpakaian seperti itu kecuali orang-orang yang sombong.

Berikut pembahasan mengenai Keadaan-keadaan yang Makruh untuk Melaksanakan Sholat. Semoga bermanfaat.

-Madinatul ilmi-

Keutamaan Shalawat Kepada Nabi Muhammad

Bahwa Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam bersabda, Disaat aku tiba di langit di malam Isro’ Mi’roj, Aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, Di setiap tangan ada 1000 jari.
Aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu.

Aku bertanya kepada Jibril Alaihis Salam, pendampingku, ‘Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?’

Jibril Alaihis Salam berkata, Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.

Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya kepada malaikat tadi,
Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam Alaihis Salam ?

Malaikat itupun berkata,
‘Wahai Rosulalloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam, Demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam Alaihis Salam sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.

Mendengar uraian malaikat tadi, Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan.

Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau, Wahai Rosulalloh, Walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.

Rosulalloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun bertanya, Apa kekurangan dan kelemahan kamu?

Malaikat itupun menjawab, Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rosulalloh, Jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu BERSHOLAWAT atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka atas sholawat yang mereka ucapkan atas dirimu.

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ

“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali,
dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”
? [HR an-Nasa’i (no. 1297), Ahmad (3/102 dan 261), Ibnu Hibban (no. 904) dan al-Hakim (no. 2018), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu hajar dalam “Fathul Baari” (11/167)]

Berikut adalah artikel mengenai Keutamaan Shalawat Kepada Nabi Muhammad, semoga bermanfaat.

اللهم صلّ على سيدنا محمد • وعلى أل سيدنا محمد

Keutamaan Surah al Mulk

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas radliyallahu’anhuma, bahwasanya beliau berkata: Salah seorang sahabat Nabi shalallahu’alaihi wasallam mendirikan tenda di atas sebuah tanah, ia tidak mengetahui jika tanah yang ia dirikan tenda di atasnya ternyata sebuah kuburan.

Tiba-tiba dari dalam tanah tersebut terdengar seorang manusia yang sedang membaca al-Qur’an surat al-Mulk hingga selesai. Mengetahui hal tersebut, sahabat tersebut segera mendatangi Nabi shalallahu’alaihi wasallam untuk menanyakan hal tersebut.

Sesampainya di hadapan Nabi shalallahu’alaihi wasallam, sahabat tersebut berkata; “Aku mendirikan tendaku di atas sebuah tanah yang aku tidak tahu jika tanah tersebut ternyata adalah sebuah kuburan”.

“Tiba-tiba dari dalam tanah tersebut, terdengar seorang manusia yang sedang membaca surat al-Mulk sampai selesai”.

Mendengar ucapan dari salah seorang sahabatnya tersebut, lalu Nabi shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

هي المانعة هي المنجية تنجيه من عذاب القبر

Ia (surat al-Mulk) adalah pencegah, ia adalah penyelamat yang menyelamatkan orang yang membacanya dari siksa kubur.

Syaikh al-Mubarokfury di dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi menyampaikan, makna al-Mani’ah adalah, surat tabarok (al-Mulk) bisa mencegah seseorang dari siksa kubur, atau mencegahnya dari berbuat maksiat yang bisa menyebabkan ia mendapatkan siksa kubur.

Imam az-Zarqoni menyampaikan: Abd bin Humaid, ath-Thabrani, al-Hakim telah mentakhrij riwayat dari Ibni Abbas, bahwasanya beliau berkata kepada seorang laki-laki: “Bacalah tabarokalladzi bi yadihil mulk, sesungguhnya ia adalah penyelamat, ia adalah pembela pada hari kiamat nanti pada sisi Tuhannya, bagi pembacanya. Ia akan meminta bagi pembacanya agar diselamatkan dari adzab Allah, dan menyelamatkan pembacanya dari adzab kubur.”

Jangan Sampai Menyesal Dimasa Tua

Gunakanlah masa muda mu untuk berpayah-payah…

Karena masa tuamu akan kau gunakan untuk memanem bersama istri dan anak-anak mu…

Tidakkah telah berlalu di hadapanmu kisah penyesalan orang tua akan masa mudanya yang sia-sia…

Apakah itu tidak membuatmu mengambil pelajaran…

Mengapa engkau lebih senang bermanja-manja dengan kemalasan daripada melakukan apa yang bermanfaat

Jangan menjadi manusia yang ada atau tidaknya sama sekali tidak membawa dampak baik bagi masyarakat sekitarnya…

Seharusnya kalian mendidik nafsu kalian dengan pekerjaan yang berat lagi menyusahkan…

Usia seperti kalian seharusnya sudah merasakan lemparan fitnah dan beratnya ujian…

Masa mudamu terlalu payah. Kau habiskan dengan bermain-main, tamasya, naik gunung, pacaran, nongkrong, merokok.

Kamu punya mata, tapi kamu buta melihat kebaikan…

Kamu punya telinga, tapp kamu tuli mendengar nasehat…

Kamu sama saja dengan binatang ternak, bahkan lebih buruk lagi..

اللهم انا نعوذبك من الهم والحزن

Bermusuhan hanya karena Masalah Ijtihadiyah

Perpecahan diantara sesama muslim telah sukses dilakukan dengan cara membesar-besarkan perbedaan dalam masalah ijtihadiyah (yang dibolehkan berbeda) kemudian masalah ini dibuat menjadi begitu sensitif.

Padahal Sejak dulu permasalahan ini hanyalah permasalahan ijtihadiyah, Tidak ada yang berubah !

Bedanya, umat Islam dulu tidak pernah berperang karena masalah ijtihadiyah seperti ini, mereka malah menjadikannya sebagai alat untuk memperkuat persaudaraan dan menghidupkan toleransi.

Adapun umat Islam hari ini ?

Permasalahan ijtihadiyah yang sama malah menjadi pisau dan senjata untuk memecah belah persatuan umat Islam.

— Almarhum Almaghfurlah Fadhilatussyaikh Dr. MUHAMMAD SAID RAMADHAN AL BOUTHI,

Ulama Besar Syria

Sukses Kau Tentukan Sendiri

Salah satu penghambat kesuksesan dalam hidup adalah terlalu mengikuti teman yang buruk akhlaknya.

Lakukanlah yang terbaik tanpa harus menunggu teman melakukannya. Teman yang buruk bukanlah orang yang ikut kecewa jika kelak kita celaka.

Berhentilah dari kebiasaan menunggu teman. Berhentilah pula dari kebiasaan mengikuti teman.

Kalau ditanya, jangan menjawab, “Terserah, saya ikut saja.”

Laki-laki tidak boleh berkata demikian. Laki laki harus punya pendirian dan bisa mengambil keputusan.

Apa jadinya jika sebagai pemimpin rumah tangga selalu berkata pada istrinya, “terserah.. saya terserah kamu… saya ikut saja”

Itulah laki-laki pengecut. Tidak bisa menentukan sikap sendiri. Orang ke kanan dia ke kanan. Orang ke kiri dia ke kiri. Orang berbelok dia ikut berbelok, bahkan seandainya dia masuk lubang buayapun niscaya kamu akan mengikutinya.

Betapa banyak kesempatan emas yang sia-sia hanya karena kalian mengikuti teman yang buruk.

Mulai sekarang, belajarlah untuk berubah. Berlatihlah untuk bisa menentukan sikap dan keputusan sendiri. Karena kesuksesanmu tidak ditentukan orang lain, tapi ditentukan oleh sikapmu sendiri.

Dua Macam Marah

Marah itu ada dua. Ada marah yang ikhlas dan ada marah yang tidak ikhlas.

Orang yang marahnya ikhlas, adalah orang yang marahnya karena Allah. Dia marah karena dia tahu bahwa Allah pun marah. Kepada siapa? Kepada ahli maksiat, kepada pendosa, atau kepada orang yang tidak punya adab.

Cirinya.
Orang yang ikhlas marahnya itu, setelah marah dia akan kembali memelukmu, menuntunmu, bahkan merawatmu. Seperti siapa? Seperti orang tua dan guru-guru kita. Dan aku tidak mendapati yang paling banyak ikhlasnya saat marah kecuali hanya dua golongan tersebut.

Sedang mereka yang marahnya tidak ikhlas. Adalah yang marahnya hanya karena hak pribadinya tidak dipenuhi. Merasa tidak dihargai, merasa diacuhkan, dan merasa-merasa yang lain.

Cirinya.
Mereka dendam, selalu mengungkit, dadanya panas dan sulit memaafkan. Selalu berambisi agar yang dianggapnya bersalah tunduk dan meminta maaf di hadapannya. Bersumpah serapah dan sebagainya.

Merekalah orang yang jahil. Karena mereka tidak bisa menempatkan marah pada tempatnya. Sedang yang lebih jahil lagi adalah mereka yang tidak bisa membedakan marah yang ikhlas dan tidak. Dia terbalik. Marahnya Guru dianggapnya berambisi, marahnya pacar dikiranya penuh toleransi.

Semoga Allah jauhkan kita dari kebodohan. Amin.

Jangan Bicara Agama bila Tidak Mengerti Agama!

Jangan sampai kita ikut-ikutan mengatakan,
‘lebih baik nakal di waktu muda, daripada nakal di waktu tua’

Saya yakin kalimat ini hanya sekedar pembelaan bagi nafsu belaka. Memang, paling sulit mengakui kesalahan dan dosa sendiri. Tapi kalau toh memang nyatanya kita bersalah, ya bersalah saja, tidak perlu membela diri. Apalagi sampai mengatakan yang haram itu halal.

Yang demikian itu ciri orang sombong. Kenapa? Karena ingin selalu merasa benar. Begitu ada salah yang dia khawatirkan akan membuatnya jatuh, kontan dia membela diri.

Dan memang, orang yang sombong di hadapan manusia, sangat berpotensi sombong kepada Allah. Sampa-sampai merendahkan syariat-Nya.

Lihat maqom masing-masing lah kalau mau bicara. Ilmu enggak, akhlak enggak, ngaji enggak, maksiat iya. Gitu kok bicara agama.

Merendah untuk Menyombongkan Diri

Ada saja di dunia ini orang-orang yang merendah tapi dengan niat menyombongkan diri. Dia mengaku rendah supaya orang tahu bahwa dia rendah hati. Tapi sayangnya, justru yang tampak dari mereka adalah kebusukan dan kebohongan.

Betapa banyak orang yang mengenakan baju yang indah justru mereka lebih selamat daripada mereka yang memakai baju lusuh dan kasar.

Betapa banyak orang yang kendaraannya mahal dan mewah, justru dengannya dia mulia daripada mereka yang berkendara sepeda tua.

Benahilah hatimu, perbaikilah niatmu…

Betapa banyak yang hidup dalam kemiskinan justru lebih sering bersuudzan kepada yang hidup dalam kecukupan.

Betapa banyak yang tidak terkenal justru lebih ingin dikenal daripada mereka yang terkenal.

Betapa banyak orang riya padahal dia sedang ibadah sendiri di tengah malam gelap, daripada mereka yang beribadah di tengah kerumunan.

Teruslah berlatih, teruslah berjuang…