Apa Benar Puasa setelah Hari Nisfu Sya’ban Haram Hukumnya?

Menurut madzhab Imam Syafi’i yang dikukuhkan adalah haram (makruh karohatattahrim). Dan menurut jumhur ‘Ulama dari Madzhab Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Imam Malik hukumnya tidak haram.
Dan haram hukumnya puasa setelah nisyfu sya’ban menurut madzhab Imam Syafi’i. Akan menjadi tidak haram dengan 3 perkara :

1. Karena kebiasaan puasa, seperti orang yang biasa puasa Senin dan Kamis, maka ia pun boleh melanjutkan puasa Senin dan Kamis meskipun sudah melewati nisyfu sya’ban.

2. Untuk mengganti (qadha) puasa, misalnya seseorang punya hutang puasa belum sempat mengganti sampai nisyfu sya’ban, maka pada waktu itu berpuasa setelah nisyfu sya’ban untuk qadha hukumnya tidak haram.

3. Dengan disambung dengan hari sebelum nisyfu syaban, misalnya dia berpuasa tanggal 16 sya’ban kemudian disambung dengan hari sebelumnya (yaitu tanggal 15 sya’ban). Maka puasa di tanggal 16 tidak lagi menjadi harom.

Pendapat ulama Syafi’iyah yang mengatakan haram dan akan menjadi tidak haram dengan 3 hal tersebut di atas karena mengamalkan semua riwayat yang bersangkutan dengan hal tersebut.
Seperti Hadits yang diriwayatkan oleh :

a. Imam Tirmidzi, Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah :

” إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا تَصُومُوا”
“Apabila sudah pertengahan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa.” (H.R. Al-Tirmidzi)

b. Imam Bukhori dan Imam Muslim yang artinya :

” لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ ”
“Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa sunah, maka bolehlah ia berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

c. Hadits riwayat Imam Muslim :

” كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً ”
“Nabi S.A.W biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya dan hanya sedikit saja hari-hari berbuka beliau di bulan sya’ban” (HR. Imam Muslim).

Dari hadits-hadits di atas, hadits pertama Rosulullah SAW melarang puasa setelah nisyfu Sya’ban dan hadis kedua Rosulullah melarang puasa setelah nisyfu Sya’ban kecuali orang yang punya kebiasaan puasa sebelumnya. Dan hadits yang ketiga menunjukkan bahwa Rosulullah puasa ke banyak hari-hari di bulan sya’ban .

Kesimpulannya :

Berpuasalah sebanyak-banyaknya di bulan Sya’ban dari awal sya’ban hingga akhir. Dan jangan berpuasa setelah tanggal 15 Sya’ban kecuali engkau sambung dengan hari sebelumya, atau untuk mengganti puasa atau karena kebiasaan berpuasa di hari-hari sebelumnya.

Wallahu a’lam bisshowab

http://buyayahya.org/buya-menjawab/benarkah-puasa-setelah-nisfu-syaban-setelah-tanggal-15-syaban-itu-haram-buya-yahya-menjawab.html

Hadrah Basaudan

Hadrah Basaudan

Hadrah BaSaudan adalah kumpulan zikir, munajat, ibtihal, qasidah dan tawassul yang disusun oleh Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad BaSaudan. Tetapi dikatakan bahwa susunan awalnya adalah daripada Habib ‘Umar bin ‘Abdur Rahman al-Baar lalu dilanjutkan oleh muridnya Syaikh ‘Abdullah BaSaudan dan akhirnya disempurnakan oleh Habib ‘Abdur Rahman al-Masyhur, pengarang “Bughyatul Mustarsyidin”. Oleh itu di beberapa tempat, hadrah ini dikenali sebagai “Hadrah al-Baar”, berkat syaikh futuh Syaikh ‘Abdulah BaSaudan, Habib ‘Umar bin ‘Abdur Rahman al-Baar.

Imam Hujjatul Islam Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdur Rahman BaSaudan rahimahumUllah jami`an dilahirkan di desa Khuraibeh, wadi Dau`an, Hadhramaut pada tahun 1178H. Nasab beliau bersambung kepada Sayyidina al-Miqdad bin al-Aswad al-Kindi RA, sahabat Junjungan Nabi SAW.

Semenjak Islam masuk ke persada Nusantara, berbagai tradisi kebudayaan bernafaskan Islam bermunculan. Kita mengenal tradisi maulid yang semarak di Rabiul Awal, bulan kelahiran Baginda Rasul SAW. Dalam tradisi ini, kaum muslimin membacakan sejarah Baginda Nabi SAW dengan diiringi shalawat dan kasidah-kasidah pujian. Maulid sendiri ada banyak macamnya. Ada Maulid Diba’, Maulid Barzanji, Maulid Habsyi dan lain sebagainya. Di samping maulid, ada pula tradisi tahlilan, istighasah, manakiban, ratiban, burdah serta yang lain lagi. Semua aktivitas itu lahir bukan sebagai akulturasi Islam dengan budaya Jawa, melainkan murni taqarrub(pendekatan diri) yang dituntunkan ulama kepada umat Islam berdasarkan dalil-dalil hukmiyah yang akurat.

Hadrah Basaudan barangkali merupakan fenomena baru di tengah kaum muslimin Nusantara. Tradisi ini lahir di Hadramaut, Yaman Selatan sekitar dua abad silam. Seperti halnya maulid atau burdah, Hadrah Basaudan diisi dengan pembacaan kasidah-kasidah yang berintikan sanjungan kepada nabi SAW, doa dan tawasul kepada orang-orang sholeh. Kalau burdah lazimnya dibaca pada hari atau malam Jumat, maka Hadrah Basaudan dikhususkan pada setiap hari Selasa, boleh pagi atau sore.

Di Tarim, Hadramaut, majelis ini digelar di dua tempat, yakni Rubat Tarim dan kediaman Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur. Pembacaan Hadrah Basaudan di Rubat Tarim dilakukan oleh para santri rubat pada Selasa seusai shalat shubuh. Sementara itu, di kediaman Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, pembacaan Hadrah Basaudan bersuasana lebih semarak. Para tokoh Tarim senantiasa menyempatkan diri menghadiri Hadrah Basaudan di tempat ini pada Selasa sore. Barangkali hal itu bisa dimaklumi sebab Habib Abdurrahman memberikan andil dalam penyusunan Hadrah Basaudan.

Belakangan majelis Hadrah Basaudan menyebar hingga ke sejumlah Negara di Timur Tengah dan Afrika. Sementara di Indonesia, majelis ini juga mulai bertumbuhan di beberapa kota seperti Jakarta, Gresik, Surabaya, Tuban, Pasuruan, Malang, Lumajang, Jember dan lain-lain. Majelis ini dibawa oleh ulama yang rata-rata berdarah Hadrami.

Di Malang, Hadrah Basaudan dipelopori oleh Majelis Riyadus Shalihin asuhan Habib Muhammad Bagir bin Sholeh Mauladawilah. Tiap Selasa pagi, mulai pukul 05.30-07.00, Majelis Riyadus Shalihin yang berlokasi di Kapten Pierre Tendean gang 3 Malang ini ramai dihadiri ratusan peserta Hadrah Basaudan yang mayoritas berpakaian putih-putih. Mereka selalu khidmat memanjatkan doa bersama, dibimbing Habib Muhammad Bagir. Jamaah yang tidak mendapat tempat duduk di ruang majelis taklim yang berukuran 20 x 10 meter itu rela duduk di atas kardus di sepanjang gang yang sempit.

Di Pasuruan tak kalah semaraknya. Hadrah Basaudan di kota ini diadakan Selasa sore di Turbah Habib Alwi bin Segaf as-Segaf dipimpin langsung oleh Habib Taufik bin Abdulkadir as-Segaf. Majelis yang satu ini selalu dihadiri kaum muslimin yang jumlahnya mencapai seribu orang lebih. Uniknya, seusai pembacaan hadrah, Habib Taufik senantiasa menyambung majelis dengan pembacaan kalam salaf. Di Gresik, majelis Hadrah Basaudan dilangsungkan di kediaman Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf pada hari Selasa usai shalat ashar. Majelis di kota ini dipimpin oleh Ustad Abdulkadir bin Ali as-Segaf, salah seorang cucu Habib Abu Bakar.

Kota Lumajang juga tak ketinggalan. Ustad Umar bin Sholeh al-Hamid menghelat Hadrah Basaudan setiap Selasa pagi di rumahnya yang terletak di kawasan Kampung Arab. Begitu juga di kota Tuban. Hadrah Basaudan di kota tua ini dipelopori oleh Ustad Alwi bin Ahmad as-Segaf dan diadakan di pesantrennya, Darul Ihsan. Ada pun di Surabaya, kegiatan majelis ini berlangsung setiap Selasa sore di kediaman Habib Abdulkadir bin Hud as-Segaf di Ketapang Besar. Untuk sementara ini, Hadrah Basaudan di Surabaya masih diperuntukkan hanya bagi kaum wanita. Sementara itu, Hadrah Basaudan di kawasan Bukit Biru, Tenggarong, barangkali merupakan majelis Hadrah Basaudan pertama yang dilakukan secara rutin di bumi Kalimantan. Majelis ini dilaksanakan tiap Selasa sore di Pesantren Al-Munawwarah.

“Mulanya, Hadrah Basaudan sebetulnya ditulis oleh Habib Umar bin Abdurrahman al-Barr,” demikian jelas Habib Muhammad bin Ali Masyhur bin Muhammad bin Hafiz. Ulama muda asal Hadramaut ini menyampaikan hal tersebut tatkala menghadiri majelis Hadrah Basaudan di Turbah Habib Alwi bin Segaf as-Segaf di Kebonagung Pasuruan pada 14 Desember 2010 silam. “Kemudian penulisan hadrah itu diteruskan oleh Syekh Abdullah bin Ahmad Basaudan, salah seorang murid Habib Umar bin Abdurrahman al-Barr. Selang beberapa lama, hadrah itu dilengkapi oleh Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdor dan pada akhirnya disempurnakan oleh Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, penulis kitab Bughyatul Mustarsyidin yang tersohor itu.”

Belakangan hadrah itu lebih dikenal sebagai Hadrah Basaudan, diambil dari nama Syeikh Abdullah bin Ahmad Basaudan, ulama yang paling disegani dua abad lalu. Ia adalah salah satu dari sedikit ulama yang telah sampai pada puncak pengetahuan dan ditahbiskan sebagai “Hujjatul Islam.” “Syeikh Abdullah bin Ahmad Basaudan bukanlah ahlul bait, tapi dia diposisikan sebagaimana Salman di tengah ahlul bait,” lanjut Habib Abdurrahman. Dari kitab tarikh kita tahu, Salman adalah seorang lelaki Persia yang masuk Islam dan kemudian menjadi sahabat Baginda Rasul SAW. Ia begitu disenangi oleh Baginda Rasul SAW, hingga beliau SAW bersabda, “Salman termasuk keluargaku.” Syekh Abdullah Basaudan mendapat gelar Salman lantaran kedekatan dan kecintaannya kepada ahlul bait Nabi SAW. Ia meninggal pada tahun 1266 Hijriyah.

Mengenai arti “hadrah”, Habib Muhammad bin Ali Masyhur memaparkan: “Hadrah berarti hadir. Ketika hati kita hadir menyebut asma Allah SWT, maka berarti kita telah memasuki Hadratillah. Kalau hati kita tidak hadir, maka kita takkan bisa memasukinya. Sesungguhnya orang-orang yang bisa menghadiri Hadrah Basaudan telah mendapatkan undangan khusus dari Allah SWT. Allah SWT telah mengundang mereka dengan menggerakkan hati mereka untuk menikmati jamuan-Nya. Kita tentunya akan mengundang orang-orang dekat kita secara khusus bila hendak mengadakan jamuan istimewa.”

“Hadrah Basaudan kini dibaca di mana-mana, dari Timur Tengah sampai Benua Afrika. Mereka semua telah merasakan keberkahan dari membaca hadrah ini. Di Tarim, Hadrah Basaudan dibaca di kediaman Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur dan sekarang dipimpin oleh abah saya, Habib Ali Masyhur bin Muhammad bin Hafiz. Alhamdulillah kita sekarang tengah membaca Hadrah Basaudan. Hadrah yang Insya Allah dihadiri oleh berjuta malaikat. Andai semua orang tahu bahwa hadrah ini diikuti oleh berjuta malaikat, tentu mereka akan berjejal-jejal di tempat ini sekarang. Tetapi kiranya Allah SWT hanya mengundang orang-orang yang Ia kehendaki saja.”

Bid’ah

Begitulah Habib Muhammad menerangkan keutamaan majelis Hadrah Basaudan di tengah sekitar seribu hadirin yang menyesaki Turbah Habib Alwi as-Segaf. Kemudian, menyinggung pelaksanaan Hadrah Basaudan di makam salah seorang wali di kota Pasuruan ini, Habib Muhammad berkisah, “Dulu ada seorang wali yang bermimpi bertemu Baginda Nabi SAW. Dari pertemuan itu, si wali mendapatkan tiga buah hadits. Hadits yang pertama menyebutkan bahwa duduk sejenak di hadapan wali Allah yang masih hidup atau sudah wafat, sekali pun waktunya sesingkat orang memerah susu atau mengupas sebutir telur, lebih utama dari pada beribadah sampai anggota tubuh terpotong-potong. Hadits yang kedua menerangkan bahwa semenjak aroma kopi terasa di lidah seseorang (orang yang minum kopi demi menambah kekuatan ibadah di malam hari, red), maka para malaikat memohonkan ampunan kepada orang itu. Hadits yang ketiga mengatakan bahwa orang yang membawa tasbih (dengan niat untuk digunakan berzikir, red) akan selalu mendapatkan catatan pahala selama tasbih itu ada di dalam genggamannya.”

Hadits di atas memang tak pernah diriwayatkan oleh para perawi hadits karena didapatkan lewat mimpi. Sekali pun demikian, sebuah hadits Shahih Imam Bukhori menegaskan ucapan Rasul: “Orang yang melihatku dalam mimpi, pada hakikatnya telah melihatku dalam nyata sebab setan takkan pernah menyerupai aku, sekali pun dalam mimpi.”

Hadrah Basaudan diakhiri dengan pembacaan Al-Fatihah yang ditujukan kapada para alim ulama dan auliya yang telah meninggal. Terkadang pembacaan Al-Fatihah ini memakan waktu yang lama, mengingat nama-nama yang disebutkan sangatlah banyak. “Para auliya yang telah meninggal, bila disebutkan nama mereka, maka mereka akan datang kepada kita,” Habib Muhammad menegaskan. Pembacaan Al-Fatihah itu juga merupakan bentuk tawasul yang diajarkan oleh Baginda Nabi SAW serta para sahabat dan sama sekali bukan perkara bid’ah…..!

Sumber: http://www.sarkub.com/2012/hadrah-basaudan/

Keadaan-keadaan yang Makruh untuk Melaksanakan Sholat

Keadaan-keadaan yang Makruh untuk Melaksanakan Sholat

Ada keadaan-keadaan tertentu dimana dimakruhkan sholat dalam keadaan-keadaan itu dikarenakan jika kita melaksanakan sholat dalam keadaan seperti itu akan mengganggu kekhusyu’kan sholat kita yaitu dalam keadaan-keadaan berikut ini.

  1. Melaksanakan sholat dalam keadaan haqin yaitu menahan kencing (kebelet).
  2. Melaksanakan sholat dalam keadaan haqib yaitu menahan buang air besar (kebelet).
  3. Melaksanakan sholat dalam keadaan hazik yaitu menahan kentut.
  4. Melaksanakan sholat dalam keadaan haqim yaitu menahan kencing dan berak sekaligus. Maka didalam empat keadaan diatas lebih baik kita tuntaskan hajat kita dahulu barulah kemudian kita laksanakan sholat.
  5. Melaksanakan sholat dalam keadaan menahan selera makan jika waktu sholat pada waktu itu masih luas, sedangkan makanan sudah tersaji maka lebih baik makan dahulu Barulah kemudian melaksanakan sholat.
  6. Melaksanakan sholat diatas sepatu atau sandal yang sempit.
  7. Melaksanakan sholat dalam keadaan marah hingga reda marahnya.
  8. Melaksanakan sholat dalam keadaan mengantuk hingga hilang rasa kantuknya.
  9. Melaksanakan sholat dalam keadaan mudtobi’ yaitu mereka yang melaksanakan haji atau umroh dari kaum pria dalam keadaan selendangnya yang sebelah kanan diletakkan dibawah ketiaknya sehingga bahu kanannya terbuka, dan memang hal itu disunnahkan ketika melaksanakan thowaf bagi kaum pria akan tetapi ketika melaksanakan sholat disunnah-kan untuk menutup kedua bahunya tersebut dengan selen-dang itu sementara dia melaksanakan sholat hingga selesai dari sholatnya.
  10. Melaksanakan sholat dalam keadaan tertutup sebagian wajahnya atau setengahnya bagi laki-laki (seperti cadar yang menutup muka), begitu pula bagi perempuan dalam keadaan memakai cadar, kecuali jika disana ada laki-laki yang ajnabi (bukan mahrom).
  11. Melaksanakan sholat dalam keadaan terbuka kepala dan bahunya bagi laki-laki.
  12. Melaksanakan sholat dengan pakaian yang bergambar atau diatas sejadah/permadani yang bergambar karena hal itu akan melalaikannya.
  13. Melaksanakan sholat dalam keadaan terlilit kain di sekujur badannya, karena hal itu akan merepotkannya ketika melaksanakan pekerjaan-pekerjaan sholat.
  14. Melaksanakan sholat dengan memakai selendang yang panjang dan kedua sisi selendangnya tersebut dibiarkan menyentuh tanah.
  15. Melaksanakan sholat dengan pakaian yang panjang hingga ujungnya menyentuh tanah bagi kaum laki-laki, atau sampai lebih dari satu hasta yang tersentuh ke tanah bagi perempuan karena biasanya tidak berpakaian seperti itu kecuali orang-orang yang sombong.

Berikut pembahasan mengenai Keadaan-keadaan yang Makruh untuk Melaksanakan Sholat. Semoga bermanfaat.

-Madinatul ilmi-

Keutamaan Shalawat Kepada Nabi Muhammad

Keutamaan Shalawat Kepada Nabi Muhammad

Bahwa Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam bersabda, Disaat aku tiba di langit di malam Isro’ Mi’roj, Aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, Di setiap tangan ada 1000 jari.
Aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu.

Aku bertanya kepada Jibril Alaihis Salam, pendampingku, ‘Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?’

Jibril Alaihis Salam berkata, Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.

Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya kepada malaikat tadi,
Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam Alaihis Salam ?

Malaikat itupun berkata,
‘Wahai Rosulalloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam, Demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam Alaihis Salam sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.

Mendengar uraian malaikat tadi, Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan.

Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau, Wahai Rosulalloh, Walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.

Rosulalloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun bertanya, Apa kekurangan dan kelemahan kamu?

Malaikat itupun menjawab, Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rosulalloh, Jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu BERSHOLAWAT atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka atas sholawat yang mereka ucapkan atas dirimu.

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ

“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali,
dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”
? [HR an-Nasa’i (no. 1297), Ahmad (3/102 dan 261), Ibnu Hibban (no. 904) dan al-Hakim (no. 2018), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu hajar dalam “Fathul Baari” (11/167)]

Berikut adalah artikel mengenai Keutamaan Shalawat Kepada Nabi Muhammad, semoga bermanfaat.

اللهم صلّ على سيدنا محمد • وعلى أل سيدنا محمد

Keutamaan Surah al Mulk

Keutamaan Surah al Mulk

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas radliyallahu’anhuma, bahwasanya beliau berkata: Salah seorang sahabat Nabi shalallahu’alaihi wasallam mendirikan tenda di atas sebuah tanah, ia tidak mengetahui jika tanah yang ia dirikan tenda di atasnya ternyata sebuah kuburan.

Tiba-tiba dari dalam tanah tersebut terdengar seorang manusia yang sedang membaca al-Qur’an surat al-Mulk hingga selesai. Mengetahui hal tersebut, sahabat tersebut segera mendatangi Nabi shalallahu’alaihi wasallam untuk menanyakan hal tersebut.

Sesampainya di hadapan Nabi shalallahu’alaihi wasallam, sahabat tersebut berkata; “Aku mendirikan tendaku di atas sebuah tanah yang aku tidak tahu jika tanah tersebut ternyata adalah sebuah kuburan”.

“Tiba-tiba dari dalam tanah tersebut, terdengar seorang manusia yang sedang membaca surat al-Mulk sampai selesai”.

Mendengar ucapan dari salah seorang sahabatnya tersebut, lalu Nabi shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

هي المانعة هي المنجية تنجيه من عذاب القبر

Ia (surat al-Mulk) adalah pencegah, ia adalah penyelamat yang menyelamatkan orang yang membacanya dari siksa kubur.

Syaikh al-Mubarokfury di dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi menyampaikan, makna al-Mani’ah adalah, surat tabarok (al-Mulk) bisa mencegah seseorang dari siksa kubur, atau mencegahnya dari berbuat maksiat yang bisa menyebabkan ia mendapatkan siksa kubur.

Imam az-Zarqoni menyampaikan: Abd bin Humaid, ath-Thabrani, al-Hakim telah mentakhrij riwayat dari Ibni Abbas, bahwasanya beliau berkata kepada seorang laki-laki: “Bacalah tabarokalladzi bi yadihil mulk, sesungguhnya ia adalah penyelamat, ia adalah pembela pada hari kiamat nanti pada sisi Tuhannya, bagi pembacanya. Ia akan meminta bagi pembacanya agar diselamatkan dari adzab Allah, dan menyelamatkan pembacanya dari adzab kubur.”

Dua Macam Marah

Dua Macam Marah

Marah itu ada dua. Ada marah yang ikhlas dan ada marah yang tidak ikhlas.

Orang yang marahnya ikhlas, adalah orang yang marahnya karena Allah. Dia marah karena dia tahu bahwa Allah pun marah. Kepada siapa? Kepada ahli maksiat, kepada pendosa, atau kepada orang yang tidak punya adab.

Cirinya.
Orang yang ikhlas marahnya itu, setelah marah dia akan kembali memelukmu, menuntunmu, bahkan merawatmu. Seperti siapa? Seperti orang tua dan guru-guru kita. Dan aku tidak mendapati yang paling banyak ikhlasnya saat marah kecuali hanya dua golongan tersebut.

Sedang mereka yang marahnya tidak ikhlas. Adalah yang marahnya hanya karena hak pribadinya tidak dipenuhi. Merasa tidak dihargai, merasa diacuhkan, dan merasa-merasa yang lain.

Cirinya.
Mereka dendam, selalu mengungkit, dadanya panas dan sulit memaafkan. Selalu berambisi agar yang dianggapnya bersalah tunduk dan meminta maaf di hadapannya. Bersumpah serapah dan sebagainya.

Merekalah orang yang jahil. Karena mereka tidak bisa menempatkan marah pada tempatnya. Sedang yang lebih jahil lagi adalah mereka yang tidak bisa membedakan marah yang ikhlas dan tidak. Dia terbalik. Marahnya Guru dianggapnya berambisi, marahnya pacar dikiranya penuh toleransi.

Semoga Allah jauhkan kita dari kebodohan. Amin.

Jahannam, Setelah 300 KM

Jahannam, Setelah 300 KM

Aku mengenal seorang pemuda yang dulu termasuk orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Dulu dia bersama dengan teman-teman yang buruk sepanjang masa mudanya. Pemuda itu meriwayatkan kisahnya sendiri:

“Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, aku dulu keluar dari kota Riyadh bersama dengan teman-temanku, dan tidak ada satu niat dalam diriku untuk melakukan satu ketaatanpun untuk Allah, apakah untuk shalat atau yang lain.”

“Alkisah, kami sekelompok pemuda pergi menuju kota Dammam, ketika kami melewati papan penunjuk jalan, maka teman-teman membacanya “Dammam, 300 KM”, maka aku katakan kepada mereka aku melihat papan itu bertuliskan “Jahannam, 300 KM”. Merekapun duduk dan menertawakan ucapanku. Aku bersumpah kepada mereka atas hal itu, akan tetapi mereka tidak percaya. Maka merekapun membiarkan dan mendustakanku.

Berlalulah waktu tersebut dalam canda tawa, sementara aku menjadi bingung dengan papan yang telah kubaca tadi.

Selang beberapa waktu, kami mendapatkan papan penunjuk jalan lain, mereka berkata “Dammam, 200 KM”, kukatakan “Jahannam, 200 KM”. Merekapun menertawakan aku, dan menyebutku gila. Kukatakan: “Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, sesungguhnya aku melihatnya bertuliskan “Jahannam, 200 KM”.” Merekapun menertawakanku seperti kali pertama. Dan mereka berkata: “Diamlah, kamu membuat kami takut.” Akupun diam, dalam keadaan susah, yang diliputi rasa keheranan aku memikirkan perkara aneh ini.

Keadaanku terus menerus bersama dengan pikiran dan keheranan, sementara keadaan mereka bersama dengan gelak tawa, dan candanya, hingga kemudian kami bertemu dengan papan penujuk jalan yang ketiga. Mereka berkata: “Tinggal sedikit lagi “Dammam, 100 KM”.” Kukatakan: “Demi Allah yang Maha Agung, aku melihatnya “Jahannam, 100 KM”.” Mereka berkata: “Tinggalkanlah kedustaan, engkau telah menyakiti kami sejak awal perjalanan kita.” Kukatakan: “Turunkan aku, aku ingin kembali.” Mereka berkata: “Apakah engkau sudah gila?” Kukatakan: “Turunkan aku, demi Allah, aku tidak akan menyelesaikan perjalanan ini bersama kalian.” Maka merekapun menurunkanku, akupun pergi ke arah lain dari jalan tersebut. Akupun tinggal di jalan itu beberapa saat, dengan memberikan isyarat kepada mobil-mobil untuk berhenti, tetapi tidak ada seorangpun yang berhenti untukku. Selang beberapa saat, berhentilah untukku seorang sopir yang sudah tua, akupun mengendarai mobil bersamanya. Saat itu dia dalam keadaan diam lagi sedih, dan tidak berkata-kata walaupun satu kalimat.

Maka kukatakan kepadanya: “Baiklah, ada apa dengan anda, kenapa anda tidak berkata-kata?” Maka dia menjawab: “Sesungguhnya aku sangat terkesima dengan sebuah kecelakaan yang telah kulihat beberapa saat yang lalu, demi Allah aku belum pernah melihat yang lebih buruk darinya selama kehidupanku.” Kukatakan kepadanya: “Apakah mereka itu satu keluarga atau selainnya?” Dia menjawab: “Mereka adalah sekumpulan anak-anak muda, tidak ada seorangpun dari mereka yang selamat.” Maka dia memberitahukan kepadaku ciri-ciri mobilnya, maka akupun mengenalnya, bahwa mereka adalah teman-temanku tadi. Maka akupun meminta kepadanya untuk bersumpah atas apa yang telah dia katakan, maka diapun bersumpah dengan nama Allah.

Maka akupun mengetahui bahwa Allah telah mencabut roh teman-temanku setelah aku turun dari mobil mereka tadi. Dan Dia telah menjadikanku sebagai pelajaran bagi diriku dan yang lain. Akupun memuji Allah yang telah menyelamatkanku di antara mereka.”

Syaikh Abu Khalid al-Jadawi berkata: “Sesungguhnya pemilik kisah ini menjadi seorang laki-laki yang baik. Padanya terdapat tanda-tanda kebaikan, setelah dia kehilangan teman-temannya dengan kisah ini, yang setelahnya dia bertaubat dengan taubat nashuha.”

Maka kukatakan: “Wahai saudaraku, apakah engkau akan menunggu kehilangan empat atau lima teman-temanmu sampai kepada perjalanan seperti perjalanan ini? Agar engkau bisa mengambil pelajaran darinya? Dan tahukah kamu, bahwa kadang bukan engkau yang bertaubat karena sebab kematian teman-temanmu, melainkan engkaulah yang menjadi sebab pertaubatan teman-temanmu karena kematianmu di atas maksiat dan kerusakan.”Na’udzu billah.
Ya Allah, jangan jadikan kami sebagai pelajaran bagi manusia, tetapi jadikanlah kami sebagai orang yang mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada mereka dan dari apa saja yang terjadi disekitar kami. Allahumma Amiin.

Oleh Abu Khalid al-Jadawy

*Majalah Qiblati Edisi 5 volume 3

Teguh Berpegang pada Agama di Zaman Fitnah

Diantara sifat seorang yang berakal adalah ia tidak berspekulasi dengan imannya dengan menyangka bahwa ia tidak akan terpengaruh. Bisa jadi ini muncul karena penyakit ujub akan dirinya dan kondisinya. Maka ia pun dihukum dengan ia dibiarkan antara dirinya dengan jiwanya sehingga akhirnya ia pun binasa. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata:

لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلا عَمِلْتُ بِهِ، إِنِّى أَخْشِى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ

“Aku tidaklah meninggalkan sesuatu pun yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali aku mengamalkannya, karena aku kawatir jika ada sesuatu yang aku tinggalkan dari perintah Nabi maka aku akan menyimpang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Mendengarkan syubhat dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang serta akidah-akidah yang rusak merupakan sebab kesesatan, terlebih lagi dengan berkembangnya sarana-sarana komunikasi dan kemudahan untuk sampai kepadanya. Maka hendaknya seorang muslim menjauhkan dirinya dari hal tersebut. Dan Yusuf ‘alaihis salam lebih menyukai penjara dari pada fitnah, ia berkata:

السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ

“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.” (QS. Yusuf: 33).
Para salaf dahulu, meskipun luas ilmu mereka dan dalamnya keimanan mereka, mereka menjauhkan diri mereka dari hal seperti ini. Ma’mar rahimahullah berkata, “Aku berada di sisi Ibnu Tawus tatkala ada seseorang mendatanginya tentang permasalahan takdir, maka orang itupun berbicara sesuatu. Lalu Ibnu Thowuspun memasukan kedua jarinya di kedua telinganya, dan ia berkata kepada anaknya, “Masukan jari-jarimu ke kedua telingamu dan tutuplah dengan kuat, dan janganlah engkau mendengar sedikitpun perkataannya. Sesungguhnya hati ini lemah.”
Barangsiapa yang mengetuk pintu-pintu syubhat dan hawa nafsu maka ia akau terjatuh di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (QS. Al-Shaff: 5).
Barangsiapa yang menghindari syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan harga dirinya. Dan diantara bentuk-bentuk kesesatan adalah memprotes nash-nash syari’at serta menolaknya dengan hawa nafsu dan persangkaan-persangkaan. Allah Ta’ala berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ

“Maka hendaklah hati-hati orang-orang yang menyalahi perintah Rasul.” (QS. An-Nuur: 63).
Syaikhul Islam rahimahullah berakta, “Barangsiapa yang terbiasa memprotes syari’at dengan pendapat maka tidak akan menetap iman dalam harinya”.
Dan dosa-dosa yang dianggap sepele jika terkumpul pada pelakunya maka akan membinasakannya. Nabi bersabda:

إيَّاكُمْ وَمُحَقِّرَاتِ الذُّنُوْبِ

“Hati-hatilah kalian dengan dosa-dosa yang dianggap sepele.” (HR. Ahmad).
Dan tergesa-gesa untuk melihat buah dari kebaikan menimbulkan sifat malas dan akhirnya berhenti beramal. Yang wajib adalah kontinyunya amal dan ikhlas kepada Allah dalam beramal.

Oleh: KH. Taqiyyuddin Alawy (Pengasuh PonPes Nurul Huda Mergosono)

Dari sini, semoga anak-anakku semua paham, mengerti, dan ridlo atas semua perintah saya untuk menjauhi hal-hal yang sangat mengkhawatirkan bisa merusak iman.

Saya dalam beberapa waktu yang lalu telah mengeluarkan pesan, agar murid-murid Jagad Shalawat menjauhi dari membaca, mendengarkan, melihat baik melalui video atau secara langsung ceramah-ceramah agama yang disampaikan oleh

Gus Nuril, Cak Nun, Ulil Abshar, dan tokoh-tokoh liberal lain.
Semata mata semua itu agar terselamatkan iman dan aqidah kita.

Jangan sombong, jangan sok, jangan PD dengan berkeyakinan bahwa kalian tidak terpengaruh.

Berlindunglah kepada Allah.

Amalan Asyura yang Jarang Diketahui

Ada kesunnahan hari Asyura yang mungkin tidak banyak diketahui oleh banyak orang. Apakah itu? Perhatikan hadist berikut;

من وسع علي اهله يوم عاشوراء اوسع الله عليه ساءر السنة

“Barang siapa yang menambah nafkah kepada keluarga di hari Asyuro maka Alloh akan menambah nafkahnya selama setahun itu” (HR. Sufyan bin Uyainah.)

Maksud dari keterangan di atas adalah, hendaknya setiap muslim di hari Asyuro (hari ini) mengkhususkan untuk bermewah-mewahan dalam hal rejeki.

Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah makan dengan makanan yang lezat, mewah, dan tidak seperti biasanya. Dengan niat apa? Ya dengan niat mengikuti sunnah Nabi. Yang biasa makan dengan tempe, maka cobalah hari ini untuk makan dengan daging. Yang biasa minum air putih, cobalah dengan minuman yang berbeda.

Sekali lagi semuanya dengan niat ittiba’ sunnah. Maka barangsiapa demikian, insyaallah Allah akan melapangkan rejekinya sepanjang tahun. Amin.

12