Bab yang Menerangkan Zakat

Telah dijelaskan dalam kitab Mabadi’u Al-Fiqh jilid III, bahwa hukum zakat adalah wajib ‘ain bagi setiap muslim yang merdeka dan telah mencapai nisab.  Adapun perkara-perkara yang wajib di zakati antara lain :

  1. Sapi, kerbau, kambing dan unta dengan syarat kebutuhan pangan binatang tersebut didapatkan dari alam tanpa harus membeli dari pihak lain, selain itu juga telah mencapai nisab selama satu tahun.
  2. Emas dan perak yang tidak dipakai sebagai perhiasan untuk wanita yang diperbolehkan.
  3. Barang dagangan yang memenuhi syarat nisab dan genap satu tahun.
  4. Dan kebutuhan makanan pokok serta buah-buahan (pertanian) dengan syarat memenuhi nisab saja.

Penjelasan tentang nisab sapi dan kerbau

Manakala tiba saatnya sapi ataupun kerbau mencapai jumlah tiga puluh ekor, maka kewajiban zakatnya adalah tabi’un yaitu seekor anak sapi yang berumur satu tahun. Jika jumlah sapi mencapai empat puluh ekor, maka zakatnya adalah musinnah, yaitu sapi yang berumur dua tahun. Maka, dasar inilah yang digunakan untuk menghitung jumlah sapi dengan kelipatan yang lebih banyak. Misalkan, untuk zakat delapan puluh ekor adalah dua sapi musinnah. Jika jumlahnya hanya mencapai tiga puluh sembilan ekor, maka cukup berzakat dengan sapi tabi’un.

Penjelasan tentang nisab kambing

Kambing telah mencapai nisab apabila berjumlah minimal 40 ekor, zakatnya sebanyak satu ekor jadz’ah dho’nin yaitu kambing berumur satu atau dua tahun. Adapun jika kambing tersebut bejumlah 121 ekor, maka zakatnya adalah dua ekor kambing. Untuk kambing yang berjumlah 201, maka zakatnya adalah tiga ekor kambing. Sedangkan kambing yang berjumlah 400, maka zakatnya berupa 4 ekor kambing. Jika kambingnya berjumlah lebih banyak dari yang dicontohkan, maka setiap seratus kambing, zakatnya adalah seekor kambing.

Penjelasan tentang nisab pertanian dan buah-buahan

Kebutuhan pokok yang dihasilkan dari ladang, sawah maupun buah-buahan mencapai nisab apabila berjumlah 5 ausaq. Khusus untuk beras murni (tanpa kulit), nisabnya adalah 5 ausaq, sedangkan beras gabah nisabnya adalah jika mencapai 10 ausaq. Perlu diketahui bahwa 5 ausaq jika dikonversikan nilainya menjadi 956 kati. 1 kati dapat diubah menjadi 6 ons. Maka :

5 ausaq = 5 kwintal 74 kg, sedangkan 10 ausaq = 11 kwintal 48 kg.

Kesimpulannya, beras yang mencapai nisab apabila jumlahnya lebih dari sama dengan 5 kw 74 kg untuk beras murni dan berjumlah 11 kw 48 kg untuk beras gabah. Jumlah beras yang harus dizakati adalah :

  • 10 % untuk beras yang didapat dari sawah dengan perairan tanpa biaya (sungai, sumber air, dll).
  • 5 % untuk beras yang didapat dari sawah dengan perairan berbiaya.

Penjelasan tentang nisab emas dan perak

Adapun nisab emas apabila telah tercapai jumlah sebanyak 20 mitsqal, sedangkan nisab perak tercapai apabila berjumlah 200 dirham. Dari jumlah itu, maka zakat yang harus dikeluarkan adalah 2 gram emas dan 13 1/3 gram perak.

  • 20 mistqol adalah 80 gram emas sedangkan 200 dirham sama dengan 670 gram perak.
  • Jika emas dan perak melebihi jumlah tersebut, maka jumlah zakatnya adalah 2 1/2 persen dari kelebihan

Penjelasan tentang nisab barang dagangan

Barang dagangan dapat dizakati apabila telah memenuhi nisab dengan ketentuan, keuntungan selama satu tahun lebih dari sama dengan harga 20 mitsqol (20 gram) emas. Maka, apabila telah memenuhi ketentuan, jumlah yang harus dizakati sebanyak 2,5 persen dari keuntungan bersih hasil penjualan.

Bab yang Menerangkan Sholat Nawafil

Sholat nawafil barangkali terdengar asing bagi telinga awam. Sebenarnya, sholat nawafil adalah istilah lain untuk penyebutan sholat sunnah. Selain sholah nawafil, istilah lain untuk penyebutan shlat sunnah adalah sholat tathowwu’. Bab ini akan menerangkan tentang pembagian sholat nawafil dalam fiqh.

Secara garis besar, sholat nawafil terbagi atas dua macam, yaitu sholat sunnah rawatib dan ghairu rawatib.

Shalat Sunnah Rawatib dapat diartikan sebagai sholat yang mengiringi sholat fardhu (lima waktu). Rawatib sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu rawatib muakkad (dikuatkan) dan ghairu muakkad (tidak dikuatkan).

Shalat Rawatib muakkad secara keseluruhan memiliki jumlah sepuluh rakaat yang terbagi sebagai berikut :

  • Dua rakaat sebelum shalat dhuhur
  • Dua rakaat sesudah shalat dhuhur
  • Dua rakaat sesudah shalat maghrib
  • Dua rakaat sesudah shalat isya’
  • Dua rakaat sebelum shalat shubuh

Sedangkan, shalat rawatib ghairu muakkad antara lain :

  • Dua rakaat sebelum shalat dhuhur
  • Dua rakaat sesudah shalat dhuhur
  • Empat rakaat (dua kali salam) sebelum shalat ashar
  • Dua rakaat sebelum shalat isya’

Mengapa dua rakaat sebelum dan sesudah shalat dhuhur termasuk sunnah rawatib maupun ghairu rawatib ? Perlu diketahui bahwa sebenarnya shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat dhuhur masing-masing berjumlah empat rakaat, namun yang termasuk dalam kategori muakkad hanya dua rakaat sesudah dan sebelum shalat dhuhur saja, dan dua rakaat sebelum dan sesudah shalat dhuhur yang lain termasuk ghairu muakkad.

Shalat Sunnah Ghairu Rawatib adalah sholat sunnah yang tidak mengiringi shalat fardhu, antara lain :

  1. Shalat witir setelah shalat isya’, paling sedikit satu rakaat dan paling banyak sebelas rakaat. Witir berarti sholat penutup, sehingga yang lebih utama setelah shalat witir tidak ada aktivitas sholat lagi hingga masuk waktu shalat shubuh. Misalnya, setelah shalat isya’ akan melaksanakan shalat tahajjud pada sepertiga malam. Maka sebaiknya shalat witir dilaksanakan setelah shalat tahajjud, bukan setelah shalat isya’.
  2. Shalat tarawih setelah shalat isya’ pada bulan ramadhan sebanyak dua puluh rakaat (dua kali salam).
  3. Shalat dhuha, paling sedikit dua rakaat dan paling banyak delapan rakaat. Waktu shalat dhuha berawal dari naiknya matahari sepenggalah hingga masuknya waktu shalat dhuhur.
  4. Shalat tahiyyatul masjid, yaitu shalat dua rakaat ketika masuk masjid dan sebelum duduk didalam masjid. Sholat ini harus dilakukan didalam masjid, bukan tempat shalat lain seperti mushalla, langgar maupun tempat-tempat shalat lain yang bukan masjid.
  5. Sholat idain, yaitu sholat idul fitri dan shalat idul adha.
  6. Shalat kusufain (dua gerhana), yaitu shalat gerhana bulan maupun shalat gerhana matahari.

Sekian penjelasan dari sholat nawafil. Semoga bermanfaat

Referensi : Kitab Mabadi’u Al-Fiqh Jilid III