Keutamaan Ulama di Yaumul Hisab

 

habib-ulama-aswajaDiceritakan dalam sebuah hadist : “Sesungguhnya Allah Ta’ala ketika menghisab seorang hamba, maka keburukan hamba tersebut lebih berat daripada kebaikannya, lalu Allah Ta’ala memerintahkan membawa hamba ini ke dalam neraka, tatkala hamba itu pergi, Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril AS : “Temukan hamba-Ku dan tanyalah dia, apakah ia pernah duduk bersama para ulama sewaktu di dunia, maka Aku akan mengampuni dirinya dengan syafaatnya para ulama itu.”

Lalu malaikat Jibril bertanya kepadanya, maka hamba itu menjawab : “Tidak.” Selanjutnya Jibril AS melaporkan kepada Allah : “Ya Tuhan-Ku, sesungguhnya Engkau Dzat Yang Lebih Mengetahui tentang keadaan hamba-Mu.” lalu Allah Ta’ala berfirman : “Tanyakan dia, apakah ia mencintai ulama?” Maka Jibril bertanya kepadanya. Hamba itu menjawab : “Tidak.” Maka Allah Ta’ala berfirman : “Tanyakan dia, apakah pernah duduk diatas hidangan para ulama?” lalu jibril bertanya kepadanya. Hamba itu menjawab : “Tidak Pernah.”

Allah kembali berfirman : “Apakah ia pernah bertempat di suatu tempat yang ditempati oleh orang yang alim?” lalu Jibril bertanya kepadanya. Hamba itu menjawab : “Tidak Pernah”. Allah berfirman kepada Jibril : “Tanyakan dia, apakah ia mencintai seseorang yang mencintai ulama?” Hamba itu menjawab : “Ya”. Maka Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril : “Ambillah tangannya dan masukkanlah dia ke surga. Sesungguhnya amba tersebut mencintai seseorang sewaktu di dunia, dan orang yang dicintai itu menyenangi ulama, maka Aku mengampuni dirinya, sebab barakahnya lelaki yang dicintai itu.”

Dinukil dari Kitab Daqa’iqul Akhbar karya Asy-Syeikh Abdurahman bin Ahmad al-Qadli

 

Kisah Malaikat Maut, Nabi Sulaiman dan Seorang Pemuda

Pada suatu hari, Malaikat maut menjemput Nabi Sulaiman AS, yang kebetulan di ruangan beliau ada tamu seorang pemuda. Malaikat maut senantiasa memandang pemuda tersebut. Pemuda tersebut gemetar karena ketakutan. Ketika malaikat maut yang menjelma sebagai manusia itu pergi, si pemuda itu bertanya kepada Nabi Sulaiman AS. “Siapakah gerangan tamu yang baru keluar tadi?” Nabi Sulaiman AS menjawab : “Dia itu adalah Malaikat maut.” Pemuda itu semakin ketakutan. Kemudian dia berkata : “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya saya memohon kepada tuan agar berkenan memerintahkan angin untuk membawa saya ke China atau India.” Lantas, Nabi Sulaiman AS memerintahkan angin untuk membawanya ke China.

Sesudah itu, Malaikat maut kembali ke Nabi Sulaiman AS dan beliau bertanya kepadanya tentang sikapnya yang memandang terus menerus pemuda itu tadi. Malaikat maut menjawab : “Sesungguhnya aku diperintahkan mencabut nyawa pemuda itu hari ini di China, tetapi ia masih berada disini dan saya heran.”, Nabi Sulaiman AS lalu menceritakan kisah pemuda itu yang meminta dikirim ke China melalui angin dan aku memerintahkan angin untuk segera membawanya ke China. Malaikat maut itu berkata kepada Nabi Sulaiman : “Aku telah mencabut nyawa pemuda itu pada saat itu pula setibanya di China.”

Berkatalah maut itu, “Aku adalah maut, yang memisahkan tiap-tiap kekasih, aku adalah maut yang memisahkan suami istri, aku adalah maut yang memisahkan anak dan ibunya, aku adalah maut yang memisahkan saudara laki-laki dan saudara wanita. Aku adalah maut yang meramaikan kubur. Aku adalah maut yang memburumu dan menemukanmu, walaupun kamu berada di gedung besi yang terkunci rapat, dan tidak ada satu makhluk pun kecuali akan merasakan aku”.

Dinukil dari Kitab Daqa’iqul Akhbar karya Asy-Syeikh Abdurahman bin Ahmad al-Qadli

Makna Wahdaniyyah, Qudrah, Iradah dan Alim Beserta Dalilnya

thank-you-allah

Makna wahdaniyyah adalah sesungguhnya Allah itu Esa dan tidak ada sekutu apapun bagi-Nya. Esa yang dimaksudkan adalah Esa Dzat-Nya, bukan sifat-sifat-Nya. Dalil jika Allah maha Esa adalah andaikan Allah memiliki teman maka sungguh antara Allah dan temannya tersebut saling berselisih paham sehingga menyebabkan alam ini akan rusak. Dan andaikata Allah dan temannya tersebut saling mengalah untuk mengatur alam, maka justru akan membatalkan maha kuasa Allah. Allah berfirman : “Seandainya di langit dan bumi terdapat Tuhan selain Aku, maka bumi dan langit akan rusak. Sesungguhnya Tuhan-Mu adalah tuhan yang satu.

Makna Qudrah adalah terwujudnya segala sesuatu yang Allah kehendaki dan tidak wujudnya segala sesuatu yang tidak Allah kehendaki disebabkan oleh kekuasaan Allah. Dalilnya adalah seandainya Allah itu lemah maka Allah tidak akan mampu menciptakan seekor nyamuk sekalipun. Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”.

Makna Irodah adalah menghendaki segala sesuatu sebelum terwujudnya sesuatu. Dalilnya adalah andaikata Allah tidak mengetahui apa yang Dia akan wujudkan, maka sungguh Allah itu lemah. Dan andaikan Allah lemah, maka mustahil Allah akan mengatur kehidupan seluruh mahkluk-Nya. Allah berfirman : “Sesungguhnya Tuhan menciptakan segala sesuatu yang Dia kehendaki dan dapat memilih sesuatu yang Dia inginkan”.

Makna Alim adalah mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi pada masa lampau maupun mengetahui segala sesuatu yang akan datang. Dalinya adalah sesungguhnya jika Allah itu jahil, maka terlalu lemah bagi Allah untuk mengatur kehidupan seluruh Alam, jika hal tersebut terjadi maka tidak ada bedanya antara Allah dengan makhluknya. Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu”.

Wallahu A’lam Bisshowab

Bab yang Menerangkan Zakat

Telah dijelaskan dalam kitab Mabadi’u Al-Fiqh jilid III, bahwa hukum zakat adalah wajib ‘ain bagi setiap muslim yang merdeka dan telah mencapai nisab.  Adapun perkara-perkara yang wajib di zakati antara lain :

  1. Sapi, kerbau, kambing dan unta dengan syarat kebutuhan pangan binatang tersebut didapatkan dari alam tanpa harus membeli dari pihak lain, selain itu juga telah mencapai nisab selama satu tahun.
  2. Emas dan perak yang tidak dipakai sebagai perhiasan untuk wanita yang diperbolehkan.
  3. Barang dagangan yang memenuhi syarat nisab dan genap satu tahun.
  4. Dan kebutuhan makanan pokok serta buah-buahan (pertanian) dengan syarat memenuhi nisab saja.

Penjelasan tentang nisab sapi dan kerbau

Manakala tiba saatnya sapi ataupun kerbau mencapai jumlah tiga puluh ekor, maka kewajiban zakatnya adalah tabi’un yaitu seekor anak sapi yang berumur satu tahun. Jika jumlah sapi mencapai empat puluh ekor, maka zakatnya adalah musinnah, yaitu sapi yang berumur dua tahun. Maka, dasar inilah yang digunakan untuk menghitung jumlah sapi dengan kelipatan yang lebih banyak. Misalkan, untuk zakat delapan puluh ekor adalah dua sapi musinnah. Jika jumlahnya hanya mencapai tiga puluh sembilan ekor, maka cukup berzakat dengan sapi tabi’un.

Penjelasan tentang nisab kambing

Kambing telah mencapai nisab apabila berjumlah minimal 40 ekor, zakatnya sebanyak satu ekor jadz’ah dho’nin yaitu kambing berumur satu atau dua tahun. Adapun jika kambing tersebut bejumlah 121 ekor, maka zakatnya adalah dua ekor kambing. Untuk kambing yang berjumlah 201, maka zakatnya adalah tiga ekor kambing. Sedangkan kambing yang berjumlah 400, maka zakatnya berupa 4 ekor kambing. Jika kambingnya berjumlah lebih banyak dari yang dicontohkan, maka setiap seratus kambing, zakatnya adalah seekor kambing.

Penjelasan tentang nisab pertanian dan buah-buahan

Kebutuhan pokok yang dihasilkan dari ladang, sawah maupun buah-buahan mencapai nisab apabila berjumlah 5 ausaq. Khusus untuk beras murni (tanpa kulit), nisabnya adalah 5 ausaq, sedangkan beras gabah nisabnya adalah jika mencapai 10 ausaq. Perlu diketahui bahwa 5 ausaq jika dikonversikan nilainya menjadi 956 kati. 1 kati dapat diubah menjadi 6 ons. Maka :

5 ausaq = 5 kwintal 74 kg, sedangkan 10 ausaq = 11 kwintal 48 kg.

Kesimpulannya, beras yang mencapai nisab apabila jumlahnya lebih dari sama dengan 5 kw 74 kg untuk beras murni dan berjumlah 11 kw 48 kg untuk beras gabah. Jumlah beras yang harus dizakati adalah :

  • 10 % untuk beras yang didapat dari sawah dengan perairan tanpa biaya (sungai, sumber air, dll).
  • 5 % untuk beras yang didapat dari sawah dengan perairan berbiaya.

Penjelasan tentang nisab emas dan perak

Adapun nisab emas apabila telah tercapai jumlah sebanyak 20 mitsqal, sedangkan nisab perak tercapai apabila berjumlah 200 dirham. Dari jumlah itu, maka zakat yang harus dikeluarkan adalah 2 gram emas dan 13 1/3 gram perak.

  • 20 mistqol adalah 80 gram emas sedangkan 200 dirham sama dengan 670 gram perak.
  • Jika emas dan perak melebihi jumlah tersebut, maka jumlah zakatnya adalah 2 1/2 persen dari kelebihan

Penjelasan tentang nisab barang dagangan

Barang dagangan dapat dizakati apabila telah memenuhi nisab dengan ketentuan, keuntungan selama satu tahun lebih dari sama dengan harga 20 mitsqol (20 gram) emas. Maka, apabila telah memenuhi ketentuan, jumlah yang harus dizakati sebanyak 2,5 persen dari keuntungan bersih hasil penjualan.

Bab yang Menerangkan Sholat Nawafil

Sholat nawafil barangkali terdengar asing bagi telinga awam. Sebenarnya, sholat nawafil adalah istilah lain untuk penyebutan sholat sunnah. Selain sholah nawafil, istilah lain untuk penyebutan shlat sunnah adalah sholat tathowwu’. Bab ini akan menerangkan tentang pembagian sholat nawafil dalam fiqh.

Secara garis besar, sholat nawafil terbagi atas dua macam, yaitu sholat sunnah rawatib dan ghairu rawatib.

Shalat Sunnah Rawatib dapat diartikan sebagai sholat yang mengiringi sholat fardhu (lima waktu). Rawatib sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu rawatib muakkad (dikuatkan) dan ghairu muakkad (tidak dikuatkan).

Shalat Rawatib muakkad secara keseluruhan memiliki jumlah sepuluh rakaat yang terbagi sebagai berikut :

  • Dua rakaat sebelum shalat dhuhur
  • Dua rakaat sesudah shalat dhuhur
  • Dua rakaat sesudah shalat maghrib
  • Dua rakaat sesudah shalat isya’
  • Dua rakaat sebelum shalat shubuh

Sedangkan, shalat rawatib ghairu muakkad antara lain :

  • Dua rakaat sebelum shalat dhuhur
  • Dua rakaat sesudah shalat dhuhur
  • Empat rakaat (dua kali salam) sebelum shalat ashar
  • Dua rakaat sebelum shalat isya’

Mengapa dua rakaat sebelum dan sesudah shalat dhuhur termasuk sunnah rawatib maupun ghairu rawatib ? Perlu diketahui bahwa sebenarnya shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat dhuhur masing-masing berjumlah empat rakaat, namun yang termasuk dalam kategori muakkad hanya dua rakaat sesudah dan sebelum shalat dhuhur saja, dan dua rakaat sebelum dan sesudah shalat dhuhur yang lain termasuk ghairu muakkad.

Shalat Sunnah Ghairu Rawatib adalah sholat sunnah yang tidak mengiringi shalat fardhu, antara lain :

  1. Shalat witir setelah shalat isya’, paling sedikit satu rakaat dan paling banyak sebelas rakaat. Witir berarti sholat penutup, sehingga yang lebih utama setelah shalat witir tidak ada aktivitas sholat lagi hingga masuk waktu shalat shubuh. Misalnya, setelah shalat isya’ akan melaksanakan shalat tahajjud pada sepertiga malam. Maka sebaiknya shalat witir dilaksanakan setelah shalat tahajjud, bukan setelah shalat isya’.
  2. Shalat tarawih setelah shalat isya’ pada bulan ramadhan sebanyak dua puluh rakaat (dua kali salam).
  3. Shalat dhuha, paling sedikit dua rakaat dan paling banyak delapan rakaat. Waktu shalat dhuha berawal dari naiknya matahari sepenggalah hingga masuknya waktu shalat dhuhur.
  4. Shalat tahiyyatul masjid, yaitu shalat dua rakaat ketika masuk masjid dan sebelum duduk didalam masjid. Sholat ini harus dilakukan didalam masjid, bukan tempat shalat lain seperti mushalla, langgar maupun tempat-tempat shalat lain yang bukan masjid.
  5. Sholat idain, yaitu sholat idul fitri dan shalat idul adha.
  6. Shalat kusufain (dua gerhana), yaitu shalat gerhana bulan maupun shalat gerhana matahari.

Sekian penjelasan dari sholat nawafil. Semoga bermanfaat

Referensi : Kitab Mabadi’u Al-Fiqh Jilid III

Bab yang Menerangkan Sholat (bagian II)

Kita lanjutkan belajar seputar fiqh sholat, topik yang akan kita bahas pada bagian II ini adalah Rukun dan Sunnah-Sunnah dalam sholat. Semoga kita benar-benar faham karena bagian ini adalah titik terpenting dalam ibadah sholat.

Soal : Berapakah rukun dalam sholat ?

Jawab : Rukun dalam sholat berjumlah empat belas rukun.

pertama, berdiri bagi yang mampu

kedua, niat (di lafadzkan dengan usholli, dan diucapkan dalam hati ketika takbiratul ihram)

ketiga, takbiratul ihram

keempat, membaca al-fatihah

kelima, ruku’

keenam, tuma’ninah dalam ruku’, i’tidal, sujud dan duduk diantara dua sujud

ketujuh, i’tidal

kedelapan, sujud

kesembilan, duduk diantara dua sujud (iftirosh)

kesepuluh, duduk tasyahhud akhir

kesebelas, membaca tasyahhud akhir

kedua belas, bershalawat atas rasulullah dalam tasyahhud akhir

ketiga belas, salam pertama

keempat belas, tartib (berurutan).

Soal : Apa sunnah-sunnah sebelum masuknya waktu sholat ?

Jawab : Adzan dan Iqamah.

Soal : Apa sunnah-sunnah setelah masuknya waktu sholat ?

Jawab : Dibagi menjadi dua bagian, sunnah abyadh dan sunnah hai’at.

Soal : Berapakah sunnah abyadh dalam sholat ?

Jawab : Sunnah abyadh ada tiga.

pertama, tasyahhud akhir (dimulai dari kama shollaita ala sayyidina ibrahim, hingga akhir)

kedua, shalawat atas nabi pada tasyahhud awal

ketiga, membaca doa qunut pada sholat shubuh dan pada waktu pertengahan hingga akhir bulan ramadhan

Soal : Berapakah sunnah hai’at dalam sholat ?

Jawab : Sunnah hai’at berjumlah ada lima belas.

pertama, mengangkat tangan diatas kedua bahu manakala takbiratul ihram, ruku’, i’tidal, dan setelah tasyahhud awal

kedua, meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri, diatas dada dan diatas pusar ketika bersedekap

ketiga, membaca doa iftitah

keempat, membaca ta’awudz

kelima, mengucapkan amin

keenam, membaca surah setelah fatihah pada rakaat pertama dan kedua untuk selain makmum (imam)

ketujuh, mengeraskan dan melirihkan bacaan pada waktunya masing-masing

kedelapan, membaca takbir pada perpindahan gerakan

kesembilan, membaca “sami’allahu liman hamidah, rabbana lakal hamdu” ketika i’tidal

kesepuluh, membaca tasbih sebanyak tiga kali ketika ruku’ dan sujud

kesebelas, meletakkan tangan diatas ujung paha dengan cara membuka rapat tangan kiri dan menggenggam tangan kanan kecuali jari telunjuk.

kedua belas, duduk iftirosh

ketiga belas, duduk tawarruk (tasyahhud akhir) pada gerakan duduk yang terakhir

keempa belas, uluk salam yang kedua

kelima belas, niat mengakhiri sholat.

=============================

Bersambung…

=============================

Referensi :

Kitab Mabadi’u Al-Fiqhiyyah Juz III oleh Ustadz Umar Abdul Jabbar, bersumber dari madzab fiqh Imam Assyafi’i

diterjemahkan menjadi bahasa jawa oleh Ustadz Ahmad Sunarto, Rembang, Jawa Tengah. 

=============================

Bab yang Menerangkan Sholat (bagian I)

images

Sholat adalah salah satu syariat terpenting dalam ajaran islam, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah “Shalat itu adalah tiang agama (Islam), maka barangsiapa mendirikannya maka sungguh ia telah mendirikan agama (Islam) itu dan barangsiapa merobohkannya maka sungguh ia telah merobohkan agama (Islam) itu,” mengingat begitu pentingnya bab sholat, maka pelajaran kita kali ini adalah membahas fiqh seputar sholat, dengan harapan dapat kita terapkan dalam menjalankan sholat sehari-hari.

Soal : Siapa yang diwajibkan sholat ?
Jawab : Sholat diwajibkan atas setiap orang islam yang sudah baligh, sehat akalnya, dan wajib atas atas orang tua untuk memerintahkan putra-putrinya untuk melaksanakan sholata pabila telah mencapai usia tujuh tahun bahkan orang tua diperkenankan untuk memukul dengan niatan mendidik apabila setelah memasuki usia sepuluh tahun namun putra-putri mereka tidak melaksanakan sholat.

Continue reading “Bab yang Menerangkan Sholat (bagian I)”

Bab yang Menerangkan Tawakkal

Ingatlah, bahwa sudah sepatutnya para pencari ilmu wajib memiliki sikap tawakkal dalam menuntut ilmu, jangan menghiraukan urusan rizki apalagi mengotori hati dengan hal tersebut.

Ada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Sahabat Az-Zubaidi, “Barangsiapa yang mempelajari agama Allah maka Allah mencukupi kebutuhannya dan memberinya rizki dari jalan yang tiada pernah disangka-sangka”.

Perhatikanlah mereka yang hatinya telah terpengaruh oleh urusan duniawi (rizki, pangan dan sandang), sungguh jarang sekali mereka dapat fokus memusatkan perhatiannya untuk mencapai akhlak yang karimah lagi mulia.

Suatu syair berkata :
Tinggalkanlah, jangan kau mengejar kemuliaan
Duduklah, engkau pasti mendapatkan sandang pangan

Continue reading “Bab yang Menerangkan Tawakkal”