Penerimaan Santri Baru

Penerimaan Santri Baru

Penerimaan Santri Baru

Asrama Mahasiswa Majelis Ta’lim dan Dzikir Jagad Shalawat

 

Alamat :
Jl. Taman Bunga Merak II Kav. 67, Kel. Jatimulyo (Depan Politeknik Malang). Akses dekat dengan kampus UB, UM, UIN dan Poltek.
Fasilitas :
Kamar tidur, dapur, 2 kamar mandi, kitab.

Ta’lim :
Kegiatan ta’lim dilaksanakan ba’dal maghrib dan ba’dal subuh. Mulai hari Senin s/d Jumat, sehingga tidak mengganggu jadwal kuliah.

Materi Ta’lim :
Fiqh, Aqidah, Tasawuf, Nahwu, serta amaliah-amaliah seperti, pembacaan shalawat Nabi, Ratib al-Haddad, wird al-lathif, dll.

Contact Person :
Ust. Bayu (0856 0869 1956)
Ust. An’im (085 258 990 258)

Biaya :
Rp1.500.000 / 6 bulan. (sudah termasuk ta’lim dan kitab)

Khodim,

Ust. Bayu Candra Setyawan, S.Pdi

Apa Benar Puasa setelah Hari Nisfu Sya’ban Haram Hukumnya?

Menurut madzhab Imam Syafi’i yang dikukuhkan adalah haram (makruh karohatattahrim). Dan menurut jumhur ‘Ulama dari Madzhab Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Imam Malik hukumnya tidak haram.
Dan haram hukumnya puasa setelah nisyfu sya’ban menurut madzhab Imam Syafi’i. Akan menjadi tidak haram dengan 3 perkara :

1. Karena kebiasaan puasa, seperti orang yang biasa puasa Senin dan Kamis, maka ia pun boleh melanjutkan puasa Senin dan Kamis meskipun sudah melewati nisyfu sya’ban.

2. Untuk mengganti (qadha) puasa, misalnya seseorang punya hutang puasa belum sempat mengganti sampai nisyfu sya’ban, maka pada waktu itu berpuasa setelah nisyfu sya’ban untuk qadha hukumnya tidak haram.

3. Dengan disambung dengan hari sebelum nisyfu syaban, misalnya dia berpuasa tanggal 16 sya’ban kemudian disambung dengan hari sebelumnya (yaitu tanggal 15 sya’ban). Maka puasa di tanggal 16 tidak lagi menjadi harom.

Pendapat ulama Syafi’iyah yang mengatakan haram dan akan menjadi tidak haram dengan 3 hal tersebut di atas karena mengamalkan semua riwayat yang bersangkutan dengan hal tersebut.
Seperti Hadits yang diriwayatkan oleh :

a. Imam Tirmidzi, Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah :

” إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا تَصُومُوا”
“Apabila sudah pertengahan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa.” (H.R. Al-Tirmidzi)

b. Imam Bukhori dan Imam Muslim yang artinya :

” لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ ”
“Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa sunah, maka bolehlah ia berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

c. Hadits riwayat Imam Muslim :

” كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً ”
“Nabi S.A.W biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya dan hanya sedikit saja hari-hari berbuka beliau di bulan sya’ban” (HR. Imam Muslim).

Dari hadits-hadits di atas, hadits pertama Rosulullah SAW melarang puasa setelah nisyfu Sya’ban dan hadis kedua Rosulullah melarang puasa setelah nisyfu Sya’ban kecuali orang yang punya kebiasaan puasa sebelumnya. Dan hadits yang ketiga menunjukkan bahwa Rosulullah puasa ke banyak hari-hari di bulan sya’ban .

Kesimpulannya :

Berpuasalah sebanyak-banyaknya di bulan Sya’ban dari awal sya’ban hingga akhir. Dan jangan berpuasa setelah tanggal 15 Sya’ban kecuali engkau sambung dengan hari sebelumya, atau untuk mengganti puasa atau karena kebiasaan berpuasa di hari-hari sebelumnya.

Wallahu a’lam bisshowab

http://buyayahya.org/buya-menjawab/benarkah-puasa-setelah-nisfu-syaban-setelah-tanggal-15-syaban-itu-haram-buya-yahya-menjawab.html

Majlis Jagad Sholawat Jagad Sholawat Di Hadiri Pangeran Masud Thoyib

Jagad sholawat Kamis, 22 September mengadakan acara rutinan pembacaan maulid di Markas Pusat Studi peradaban Brawijaya Malang. Tak kami sangka alhamdulillah saat pembacaan maulid dimulai tiba-tiba kami dikagetkan dengan kehadiran tamu istimewa dan agung yakni Pangeran Masud Thoyib atau yang bernama lengkap “Pangeran Nata Adiguna Masud Thoyib Jayakarta Adiningrat“.

Acara pembacaan maulid pada kamis 22 september 2016 ini sekaligus dibarengi dengan acara tasyakuran santri Jagad Shalawat yang telah selesai menempuh ujian skripsi (santri JS mayoritas mahasiswa), dan beberapa santri lain yang berulang tahun pada bulan ini, Alhamdulillah.

Beliau, hadir di malang untuk menghadiri acara seminar yang di adakan oleh kampus Brawijaya dalam acara “Workshop Nasional Naskah Klasik Nusantara Jilid II” bersama tokoh lainnya seperti,

  1. Prof. Dr. Muhajir Effendi , Drs. M.AP (Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI)
  2. K.H Marzuki Mustamar (Ulama’ dan Ketua PCNU Malang)
  3. Romo Ki Djati Kusuma (Budayawan)

Beliau, pangeran masud kemudian memberikan sambutan dan pesan pesan kepada kami (video), mengenai sejarah nusantara, spiritualitas keagamaan dan lainnya.  Seusai menyampaikan sambutan beliau langsung undur diri bersama Pengasuh kami (Jagad Shalawat) Bapak Dr. Jazim Hamidi, Ketua Yayasan Pusat Studi Peradaban.

 

25be55f1-5945-404c-8c35-758d9f289915

 

wp_20160922_20_33_01_pro

 

img-20160923-wa0004

 

img-20160923-wa0005

 

img-20160923-wa0008

 

 

Amalan Malam Nisfu Sya’ban

Sobat JS semua, malam ini adalah malam nisfu syaban. Mari kita hidupkan malam ini dengan memperbanyak ibadah, dzikir, dan berdoa.

Amalan yang masyhur diajarkan oleh ulama ulama kita adalah;

Setelah shalat maghrib membaca surah yasin 3x.

Yasin yang pertama diniati mohon diberi panjang umur untuk ibadah dan taat kepada Allah.

Yasin yang kedua diniati mohon dijauhkan dari segala bencana dan senantiasa diberi keselamatan.

Yasin yang ketiga diniati mohon rejeki yang halal, berkah, dan banyak.

Setelah itu membaca doa (silahkan cari di kitab wirid atau googling), dan menambah dengan hajat-hajat kita yang lain.

Pesan saya, utamakanlah hajat akhirat, seperti mohon ampun, mohon ketabahan, mohon ditetapkan iman dst. Baru menyampaikan hajat duniawi (rejeki, karir, jodoh, dst) 

Tutup dan bukalah doa dengan shalawat kepada Nabi saw.

Setelah itu silahkan menikmati hidangan masing-masing. Yang tidak ada, minum air putih saja yang banyak. Hahaha.

Berdoalah yang sungguh-sungguh…

Rangkaian Acara Kegiatan Dies Maulidiyah Jagad Shalawat Ke 3

Rangkaian Acara Kegiatan Dies Maulidiyah Jagad Shalawat Ke 3

Dies Maulidiyah Jagad Shalawat Ke 3 Akan Di Laksanakan Pada Sabtu 23 April 2016 Pukul 20.00 WIB Di Musholla Rest Area Karang Ploso Malang. Berikut Beberapa Rangkaian Acara Menyambut Dies Jagad Slahawat Ke 3

 

  1. Ziarah Wali
  2. Pembacaan Manaqib  Manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jaelani
  3. Qatmil Qur’an
  4. Pembacaan Hadrah Basaudan
  5. Qasidah Burdah

 

JS-Poster

Hadrah Basaudan

Hadrah Basaudan

Hadrah BaSaudan adalah kumpulan zikir, munajat, ibtihal, qasidah dan tawassul yang disusun oleh Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad BaSaudan. Tetapi dikatakan bahwa susunan awalnya adalah daripada Habib ‘Umar bin ‘Abdur Rahman al-Baar lalu dilanjutkan oleh muridnya Syaikh ‘Abdullah BaSaudan dan akhirnya disempurnakan oleh Habib ‘Abdur Rahman al-Masyhur, pengarang “Bughyatul Mustarsyidin”. Oleh itu di beberapa tempat, hadrah ini dikenali sebagai “Hadrah al-Baar”, berkat syaikh futuh Syaikh ‘Abdulah BaSaudan, Habib ‘Umar bin ‘Abdur Rahman al-Baar.

Imam Hujjatul Islam Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdur Rahman BaSaudan rahimahumUllah jami`an dilahirkan di desa Khuraibeh, wadi Dau`an, Hadhramaut pada tahun 1178H. Nasab beliau bersambung kepada Sayyidina al-Miqdad bin al-Aswad al-Kindi RA, sahabat Junjungan Nabi SAW.

Semenjak Islam masuk ke persada Nusantara, berbagai tradisi kebudayaan bernafaskan Islam bermunculan. Kita mengenal tradisi maulid yang semarak di Rabiul Awal, bulan kelahiran Baginda Rasul SAW. Dalam tradisi ini, kaum muslimin membacakan sejarah Baginda Nabi SAW dengan diiringi shalawat dan kasidah-kasidah pujian. Maulid sendiri ada banyak macamnya. Ada Maulid Diba’, Maulid Barzanji, Maulid Habsyi dan lain sebagainya. Di samping maulid, ada pula tradisi tahlilan, istighasah, manakiban, ratiban, burdah serta yang lain lagi. Semua aktivitas itu lahir bukan sebagai akulturasi Islam dengan budaya Jawa, melainkan murni taqarrub(pendekatan diri) yang dituntunkan ulama kepada umat Islam berdasarkan dalil-dalil hukmiyah yang akurat.

Hadrah Basaudan barangkali merupakan fenomena baru di tengah kaum muslimin Nusantara. Tradisi ini lahir di Hadramaut, Yaman Selatan sekitar dua abad silam. Seperti halnya maulid atau burdah, Hadrah Basaudan diisi dengan pembacaan kasidah-kasidah yang berintikan sanjungan kepada nabi SAW, doa dan tawasul kepada orang-orang sholeh. Kalau burdah lazimnya dibaca pada hari atau malam Jumat, maka Hadrah Basaudan dikhususkan pada setiap hari Selasa, boleh pagi atau sore.

Di Tarim, Hadramaut, majelis ini digelar di dua tempat, yakni Rubat Tarim dan kediaman Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur. Pembacaan Hadrah Basaudan di Rubat Tarim dilakukan oleh para santri rubat pada Selasa seusai shalat shubuh. Sementara itu, di kediaman Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, pembacaan Hadrah Basaudan bersuasana lebih semarak. Para tokoh Tarim senantiasa menyempatkan diri menghadiri Hadrah Basaudan di tempat ini pada Selasa sore. Barangkali hal itu bisa dimaklumi sebab Habib Abdurrahman memberikan andil dalam penyusunan Hadrah Basaudan.

Belakangan majelis Hadrah Basaudan menyebar hingga ke sejumlah Negara di Timur Tengah dan Afrika. Sementara di Indonesia, majelis ini juga mulai bertumbuhan di beberapa kota seperti Jakarta, Gresik, Surabaya, Tuban, Pasuruan, Malang, Lumajang, Jember dan lain-lain. Majelis ini dibawa oleh ulama yang rata-rata berdarah Hadrami.

Di Malang, Hadrah Basaudan dipelopori oleh Majelis Riyadus Shalihin asuhan Habib Muhammad Bagir bin Sholeh Mauladawilah. Tiap Selasa pagi, mulai pukul 05.30-07.00, Majelis Riyadus Shalihin yang berlokasi di Kapten Pierre Tendean gang 3 Malang ini ramai dihadiri ratusan peserta Hadrah Basaudan yang mayoritas berpakaian putih-putih. Mereka selalu khidmat memanjatkan doa bersama, dibimbing Habib Muhammad Bagir. Jamaah yang tidak mendapat tempat duduk di ruang majelis taklim yang berukuran 20 x 10 meter itu rela duduk di atas kardus di sepanjang gang yang sempit.

Di Pasuruan tak kalah semaraknya. Hadrah Basaudan di kota ini diadakan Selasa sore di Turbah Habib Alwi bin Segaf as-Segaf dipimpin langsung oleh Habib Taufik bin Abdulkadir as-Segaf. Majelis yang satu ini selalu dihadiri kaum muslimin yang jumlahnya mencapai seribu orang lebih. Uniknya, seusai pembacaan hadrah, Habib Taufik senantiasa menyambung majelis dengan pembacaan kalam salaf. Di Gresik, majelis Hadrah Basaudan dilangsungkan di kediaman Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf pada hari Selasa usai shalat ashar. Majelis di kota ini dipimpin oleh Ustad Abdulkadir bin Ali as-Segaf, salah seorang cucu Habib Abu Bakar.

Kota Lumajang juga tak ketinggalan. Ustad Umar bin Sholeh al-Hamid menghelat Hadrah Basaudan setiap Selasa pagi di rumahnya yang terletak di kawasan Kampung Arab. Begitu juga di kota Tuban. Hadrah Basaudan di kota tua ini dipelopori oleh Ustad Alwi bin Ahmad as-Segaf dan diadakan di pesantrennya, Darul Ihsan. Ada pun di Surabaya, kegiatan majelis ini berlangsung setiap Selasa sore di kediaman Habib Abdulkadir bin Hud as-Segaf di Ketapang Besar. Untuk sementara ini, Hadrah Basaudan di Surabaya masih diperuntukkan hanya bagi kaum wanita. Sementara itu, Hadrah Basaudan di kawasan Bukit Biru, Tenggarong, barangkali merupakan majelis Hadrah Basaudan pertama yang dilakukan secara rutin di bumi Kalimantan. Majelis ini dilaksanakan tiap Selasa sore di Pesantren Al-Munawwarah.

“Mulanya, Hadrah Basaudan sebetulnya ditulis oleh Habib Umar bin Abdurrahman al-Barr,” demikian jelas Habib Muhammad bin Ali Masyhur bin Muhammad bin Hafiz. Ulama muda asal Hadramaut ini menyampaikan hal tersebut tatkala menghadiri majelis Hadrah Basaudan di Turbah Habib Alwi bin Segaf as-Segaf di Kebonagung Pasuruan pada 14 Desember 2010 silam. “Kemudian penulisan hadrah itu diteruskan oleh Syekh Abdullah bin Ahmad Basaudan, salah seorang murid Habib Umar bin Abdurrahman al-Barr. Selang beberapa lama, hadrah itu dilengkapi oleh Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdor dan pada akhirnya disempurnakan oleh Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, penulis kitab Bughyatul Mustarsyidin yang tersohor itu.”

Belakangan hadrah itu lebih dikenal sebagai Hadrah Basaudan, diambil dari nama Syeikh Abdullah bin Ahmad Basaudan, ulama yang paling disegani dua abad lalu. Ia adalah salah satu dari sedikit ulama yang telah sampai pada puncak pengetahuan dan ditahbiskan sebagai “Hujjatul Islam.” “Syeikh Abdullah bin Ahmad Basaudan bukanlah ahlul bait, tapi dia diposisikan sebagaimana Salman di tengah ahlul bait,” lanjut Habib Abdurrahman. Dari kitab tarikh kita tahu, Salman adalah seorang lelaki Persia yang masuk Islam dan kemudian menjadi sahabat Baginda Rasul SAW. Ia begitu disenangi oleh Baginda Rasul SAW, hingga beliau SAW bersabda, “Salman termasuk keluargaku.” Syekh Abdullah Basaudan mendapat gelar Salman lantaran kedekatan dan kecintaannya kepada ahlul bait Nabi SAW. Ia meninggal pada tahun 1266 Hijriyah.

Mengenai arti “hadrah”, Habib Muhammad bin Ali Masyhur memaparkan: “Hadrah berarti hadir. Ketika hati kita hadir menyebut asma Allah SWT, maka berarti kita telah memasuki Hadratillah. Kalau hati kita tidak hadir, maka kita takkan bisa memasukinya. Sesungguhnya orang-orang yang bisa menghadiri Hadrah Basaudan telah mendapatkan undangan khusus dari Allah SWT. Allah SWT telah mengundang mereka dengan menggerakkan hati mereka untuk menikmati jamuan-Nya. Kita tentunya akan mengundang orang-orang dekat kita secara khusus bila hendak mengadakan jamuan istimewa.”

“Hadrah Basaudan kini dibaca di mana-mana, dari Timur Tengah sampai Benua Afrika. Mereka semua telah merasakan keberkahan dari membaca hadrah ini. Di Tarim, Hadrah Basaudan dibaca di kediaman Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur dan sekarang dipimpin oleh abah saya, Habib Ali Masyhur bin Muhammad bin Hafiz. Alhamdulillah kita sekarang tengah membaca Hadrah Basaudan. Hadrah yang Insya Allah dihadiri oleh berjuta malaikat. Andai semua orang tahu bahwa hadrah ini diikuti oleh berjuta malaikat, tentu mereka akan berjejal-jejal di tempat ini sekarang. Tetapi kiranya Allah SWT hanya mengundang orang-orang yang Ia kehendaki saja.”

Bid’ah

Begitulah Habib Muhammad menerangkan keutamaan majelis Hadrah Basaudan di tengah sekitar seribu hadirin yang menyesaki Turbah Habib Alwi as-Segaf. Kemudian, menyinggung pelaksanaan Hadrah Basaudan di makam salah seorang wali di kota Pasuruan ini, Habib Muhammad berkisah, “Dulu ada seorang wali yang bermimpi bertemu Baginda Nabi SAW. Dari pertemuan itu, si wali mendapatkan tiga buah hadits. Hadits yang pertama menyebutkan bahwa duduk sejenak di hadapan wali Allah yang masih hidup atau sudah wafat, sekali pun waktunya sesingkat orang memerah susu atau mengupas sebutir telur, lebih utama dari pada beribadah sampai anggota tubuh terpotong-potong. Hadits yang kedua menerangkan bahwa semenjak aroma kopi terasa di lidah seseorang (orang yang minum kopi demi menambah kekuatan ibadah di malam hari, red), maka para malaikat memohonkan ampunan kepada orang itu. Hadits yang ketiga mengatakan bahwa orang yang membawa tasbih (dengan niat untuk digunakan berzikir, red) akan selalu mendapatkan catatan pahala selama tasbih itu ada di dalam genggamannya.”

Hadits di atas memang tak pernah diriwayatkan oleh para perawi hadits karena didapatkan lewat mimpi. Sekali pun demikian, sebuah hadits Shahih Imam Bukhori menegaskan ucapan Rasul: “Orang yang melihatku dalam mimpi, pada hakikatnya telah melihatku dalam nyata sebab setan takkan pernah menyerupai aku, sekali pun dalam mimpi.”

Hadrah Basaudan diakhiri dengan pembacaan Al-Fatihah yang ditujukan kapada para alim ulama dan auliya yang telah meninggal. Terkadang pembacaan Al-Fatihah ini memakan waktu yang lama, mengingat nama-nama yang disebutkan sangatlah banyak. “Para auliya yang telah meninggal, bila disebutkan nama mereka, maka mereka akan datang kepada kita,” Habib Muhammad menegaskan. Pembacaan Al-Fatihah itu juga merupakan bentuk tawasul yang diajarkan oleh Baginda Nabi SAW serta para sahabat dan sama sekali bukan perkara bid’ah…..!

Sumber: http://www.sarkub.com/2012/hadrah-basaudan/

Keadaan-keadaan yang Makruh untuk Melaksanakan Sholat

Keadaan-keadaan yang Makruh untuk Melaksanakan Sholat

Ada keadaan-keadaan tertentu dimana dimakruhkan sholat dalam keadaan-keadaan itu dikarenakan jika kita melaksanakan sholat dalam keadaan seperti itu akan mengganggu kekhusyu’kan sholat kita yaitu dalam keadaan-keadaan berikut ini.

  1. Melaksanakan sholat dalam keadaan haqin yaitu menahan kencing (kebelet).
  2. Melaksanakan sholat dalam keadaan haqib yaitu menahan buang air besar (kebelet).
  3. Melaksanakan sholat dalam keadaan hazik yaitu menahan kentut.
  4. Melaksanakan sholat dalam keadaan haqim yaitu menahan kencing dan berak sekaligus. Maka didalam empat keadaan diatas lebih baik kita tuntaskan hajat kita dahulu barulah kemudian kita laksanakan sholat.
  5. Melaksanakan sholat dalam keadaan menahan selera makan jika waktu sholat pada waktu itu masih luas, sedangkan makanan sudah tersaji maka lebih baik makan dahulu Barulah kemudian melaksanakan sholat.
  6. Melaksanakan sholat diatas sepatu atau sandal yang sempit.
  7. Melaksanakan sholat dalam keadaan marah hingga reda marahnya.
  8. Melaksanakan sholat dalam keadaan mengantuk hingga hilang rasa kantuknya.
  9. Melaksanakan sholat dalam keadaan mudtobi’ yaitu mereka yang melaksanakan haji atau umroh dari kaum pria dalam keadaan selendangnya yang sebelah kanan diletakkan dibawah ketiaknya sehingga bahu kanannya terbuka, dan memang hal itu disunnahkan ketika melaksanakan thowaf bagi kaum pria akan tetapi ketika melaksanakan sholat disunnah-kan untuk menutup kedua bahunya tersebut dengan selen-dang itu sementara dia melaksanakan sholat hingga selesai dari sholatnya.
  10. Melaksanakan sholat dalam keadaan tertutup sebagian wajahnya atau setengahnya bagi laki-laki (seperti cadar yang menutup muka), begitu pula bagi perempuan dalam keadaan memakai cadar, kecuali jika disana ada laki-laki yang ajnabi (bukan mahrom).
  11. Melaksanakan sholat dalam keadaan terbuka kepala dan bahunya bagi laki-laki.
  12. Melaksanakan sholat dengan pakaian yang bergambar atau diatas sejadah/permadani yang bergambar karena hal itu akan melalaikannya.
  13. Melaksanakan sholat dalam keadaan terlilit kain di sekujur badannya, karena hal itu akan merepotkannya ketika melaksanakan pekerjaan-pekerjaan sholat.
  14. Melaksanakan sholat dengan memakai selendang yang panjang dan kedua sisi selendangnya tersebut dibiarkan menyentuh tanah.
  15. Melaksanakan sholat dengan pakaian yang panjang hingga ujungnya menyentuh tanah bagi kaum laki-laki, atau sampai lebih dari satu hasta yang tersentuh ke tanah bagi perempuan karena biasanya tidak berpakaian seperti itu kecuali orang-orang yang sombong.

Berikut pembahasan mengenai Keadaan-keadaan yang Makruh untuk Melaksanakan Sholat. Semoga bermanfaat.

-Madinatul ilmi-