Teguh Berpegang pada Agama di Zaman Fitnah

Diantara sifat seorang yang berakal adalah ia tidak berspekulasi dengan imannya dengan menyangka bahwa ia tidak akan terpengaruh. Bisa jadi ini muncul karena penyakit ujub akan dirinya dan kondisinya. Maka ia pun dihukum dengan ia dibiarkan antara dirinya dengan jiwanya sehingga akhirnya ia pun binasa. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata:

لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلا عَمِلْتُ بِهِ، إِنِّى أَخْشِى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ

“Aku tidaklah meninggalkan sesuatu pun yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali aku mengamalkannya, karena aku kawatir jika ada sesuatu yang aku tinggalkan dari perintah Nabi maka aku akan menyimpang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Mendengarkan syubhat dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang serta akidah-akidah yang rusak merupakan sebab kesesatan, terlebih lagi dengan berkembangnya sarana-sarana komunikasi dan kemudahan untuk sampai kepadanya. Maka hendaknya seorang muslim menjauhkan dirinya dari hal tersebut. Dan Yusuf ‘alaihis salam lebih menyukai penjara dari pada fitnah, ia berkata:

السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ

“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.” (QS. Yusuf: 33).
Para salaf dahulu, meskipun luas ilmu mereka dan dalamnya keimanan mereka, mereka menjauhkan diri mereka dari hal seperti ini. Ma’mar rahimahullah berkata, “Aku berada di sisi Ibnu Tawus tatkala ada seseorang mendatanginya tentang permasalahan takdir, maka orang itupun berbicara sesuatu. Lalu Ibnu Thowuspun memasukan kedua jarinya di kedua telinganya, dan ia berkata kepada anaknya, “Masukan jari-jarimu ke kedua telingamu dan tutuplah dengan kuat, dan janganlah engkau mendengar sedikitpun perkataannya. Sesungguhnya hati ini lemah.”
Barangsiapa yang mengetuk pintu-pintu syubhat dan hawa nafsu maka ia akau terjatuh di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (QS. Al-Shaff: 5).
Barangsiapa yang menghindari syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan harga dirinya. Dan diantara bentuk-bentuk kesesatan adalah memprotes nash-nash syari’at serta menolaknya dengan hawa nafsu dan persangkaan-persangkaan. Allah Ta’ala berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ

“Maka hendaklah hati-hati orang-orang yang menyalahi perintah Rasul.” (QS. An-Nuur: 63).
Syaikhul Islam rahimahullah berakta, “Barangsiapa yang terbiasa memprotes syari’at dengan pendapat maka tidak akan menetap iman dalam harinya”.
Dan dosa-dosa yang dianggap sepele jika terkumpul pada pelakunya maka akan membinasakannya. Nabi bersabda:

إيَّاكُمْ وَمُحَقِّرَاتِ الذُّنُوْبِ

“Hati-hatilah kalian dengan dosa-dosa yang dianggap sepele.” (HR. Ahmad).
Dan tergesa-gesa untuk melihat buah dari kebaikan menimbulkan sifat malas dan akhirnya berhenti beramal. Yang wajib adalah kontinyunya amal dan ikhlas kepada Allah dalam beramal.

Oleh: KH. Taqiyyuddin Alawy (Pengasuh PonPes Nurul Huda Mergosono)

Dari sini, semoga anak-anakku semua paham, mengerti, dan ridlo atas semua perintah saya untuk menjauhi hal-hal yang sangat mengkhawatirkan bisa merusak iman.

Saya dalam beberapa waktu yang lalu telah mengeluarkan pesan, agar murid-murid Jagad Shalawat menjauhi dari membaca, mendengarkan, melihat baik melalui video atau secara langsung ceramah-ceramah agama yang disampaikan oleh

Gus Nuril, Cak Nun, Ulil Abshar, dan tokoh-tokoh liberal lain.
Semata mata semua itu agar terselamatkan iman dan aqidah kita.

Jangan sombong, jangan sok, jangan PD dengan berkeyakinan bahwa kalian tidak terpengaruh.

Berlindunglah kepada Allah.

Pembaca budiman meninggalkan komentar