Press "Enter" to skip to content

Bab yang Menerangkan Tawakkal

Ingatlah, bahwa sudah sepatutnya para pencari ilmu wajib memiliki sikap tawakkal dalam menuntut ilmu, jangan menghiraukan urusan rizki apalagi mengotori hati dengan hal tersebut.

Ada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Sahabat Az-Zubaidi, “Barangsiapa yang mempelajari agama Allah maka Allah mencukupi kebutuhannya dan memberinya rizki dari jalan yang tiada pernah disangka-sangka”.

Perhatikanlah mereka yang hatinya telah terpengaruh oleh urusan duniawi (rizki, pangan dan sandang), sungguh jarang sekali mereka dapat fokus memusatkan perhatiannya untuk mencapai akhlak yang karimah lagi mulia.

Suatu syair berkata :
Tinggalkanlah, jangan kau mengejar kemuliaan
Duduklah, engkau pasti mendapatkan sandang pangan

Manshur Al-Hallaj* berwasiat, “Aku wasiatkan kepada nafsumu, jika tidak kau tundukkan, maka kau akan dikalahkan”.

Maka dianjurkan kepada setiap orang untuk mampu menundukkan nafsunya dengan cara memperbanyak amal shalih, sehingga tak ada lagi peluang untuk menuruti hawa nafsu.

Tidak sepatutnya, bagi orang yang berakal digelisahkan oleh urusan duniawi. Ingatlah bahwa, kegelisahanmu tidak akan dapat menolak musibah, tidak membawa manfaat, bahkan membahayakan hati, akal dan badan, serta dapat merusak kebaikan.

Oleh karenanya, hendaklah kita senantiasa memusatkan perhatian pada urusan akhirat. Inilah yang membawa kemaslahatan dan bakal bermanfaat.

Seorang yang menuntut ilmu harus meminimalkan aktifitas keduniawiannya dan harus sanggup bersusah payah dalam proses belajarnya, sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Musa “Benar-benar saya dapati susah payah dala perjalananku ini”.

Sudah sepantasnya bahwa proses belajar tidak akan lepas dari kesulitan, belajar adalah usaha yang mulia, bahkan menurut pendapat mayoritas ulama, lebih unggul dibanding berperang, padahal sejatinya besarnya ganjaran sesuai dengan kesungguhan dan tingkat kesulitan yang dihadapi.

Barangsiapa yang sabar dan tabah dalam menghadapi kesulitan dalam proses pencarian ilmu, maka ia akan mendapatkan kelezatan ilmu melebihi lezatnya dunia.

Bahkan Muhammad Ibn Hasan apabila tidak tidur beberapa malam (bagadang) untuk memecahkan berbagai persoalan rumit, maka beliau berkata : “Dimanakah letak kelezatan putra raja dibandingkan kelezatan yang aku rasakan ini ?”

==================================================
Keterangan
*Manshur Al-Hallaj adalah seorang filsuf Persia, seorang ulama besar sufi yang menganut faham Wihdatul Wujud (Manunggaling Kawula Gusti, Syeh Siti Jenar), beliau dihukum mati oleh para ulama yang menganggap beliau mengikuti faham yang menyimpang dan membahayakan masyarakat awam.

==================================================
Referensi :
Kitab Ta’lim Al-Muta’allim, terjemah bil jawwi oleh Ust. Sunarto, Rembang.
==================================================

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.