Press "Enter" to skip to content

Bab yang Menerangkan Sholat Nawafil

Sholat nawafil barangkali terdengar asing bagi telinga awam. Sebenarnya, sholat nawafil adalah istilah lain untuk penyebutan sholat sunnah. Selain sholah nawafil, istilah lain untuk penyebutan shlat sunnah adalah sholat tathowwu’. Bab ini akan menerangkan tentang pembagian sholat nawafil dalam fiqh.

Secara garis besar, sholat nawafil terbagi atas dua macam, yaitu sholat sunnah rawatib dan ghairu rawatib.

Shalat Sunnah Rawatib dapat diartikan sebagai sholat yang mengiringi sholat fardhu (lima waktu). Rawatib sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu rawatib muakkad (dikuatkan) dan ghairu muakkad (tidak dikuatkan).

Shalat Rawatib muakkad secara keseluruhan memiliki jumlah sepuluh rakaat yang terbagi sebagai berikut :

  • Dua rakaat sebelum shalat dhuhur
  • Dua rakaat sesudah shalat dhuhur
  • Dua rakaat sesudah shalat maghrib
  • Dua rakaat sesudah shalat isya’
  • Dua rakaat sebelum shalat shubuh

Sedangkan, shalat rawatib ghairu muakkad antara lain :

  • Dua rakaat sebelum shalat dhuhur
  • Dua rakaat sesudah shalat dhuhur
  • Empat rakaat (dua kali salam) sebelum shalat ashar
  • Dua rakaat sebelum shalat isya’

Mengapa dua rakaat sebelum dan sesudah shalat dhuhur termasuk sunnah rawatib maupun ghairu rawatib ? Perlu diketahui bahwa sebenarnya shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat dhuhur masing-masing berjumlah empat rakaat, namun yang termasuk dalam kategori muakkad hanya dua rakaat sesudah dan sebelum shalat dhuhur saja, dan dua rakaat sebelum dan sesudah shalat dhuhur yang lain termasuk ghairu muakkad.

Shalat Sunnah Ghairu Rawatib adalah sholat sunnah yang tidak mengiringi shalat fardhu, antara lain :

  1. Shalat witir setelah shalat isya’, paling sedikit satu rakaat dan paling banyak sebelas rakaat. Witir berarti sholat penutup, sehingga yang lebih utama setelah shalat witir tidak ada aktivitas sholat lagi hingga masuk waktu shalat shubuh. Misalnya, setelah shalat isya’ akan melaksanakan shalat tahajjud pada sepertiga malam. Maka sebaiknya shalat witir dilaksanakan setelah shalat tahajjud, bukan setelah shalat isya’.
  2. Shalat tarawih setelah shalat isya’ pada bulan ramadhan sebanyak dua puluh rakaat (dua kali salam).
  3. Shalat dhuha, paling sedikit dua rakaat dan paling banyak delapan rakaat. Waktu shalat dhuha berawal dari naiknya matahari sepenggalah hingga masuknya waktu shalat dhuhur.
  4. Shalat tahiyyatul masjid, yaitu shalat dua rakaat ketika masuk masjid dan sebelum duduk didalam masjid. Sholat ini harus dilakukan didalam masjid, bukan tempat shalat lain seperti mushalla, langgar maupun tempat-tempat shalat lain yang bukan masjid.
  5. Sholat idain, yaitu sholat idul fitri dan shalat idul adha.
  6. Shalat kusufain (dua gerhana), yaitu shalat gerhana bulan maupun shalat gerhana matahari.

Sekian penjelasan dari sholat nawafil. Semoga bermanfaat

Referensi : Kitab Mabadi’u Al-Fiqh Jilid III

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.